Monday, January 31, 2011

Childrens are

Di dalam kelas 5 pada pelajaran IPA. Saya sedang mengajarkan tentang gaya magnet. Hari itu pertemuan kedua untuk materi gaya magnet. Di pertemuan pertamanya, saya mengenalkan mereka sifat-sifat magnet. Lalu di pertemuan kedua ini saya ingin anak-anak membuat magnet dari sendok logam yang saya minta mereka bawa masing-masing. Sementara magnetnya saya yang sediakan. yang kurang saya prediksi adalah bahwa ternyata sendok + meja belajar adalah mainan yang sangat menarik bagi anak-anak kelas 5 ini. Begitu masuk pelajaran IPA dan saya minta mereka mengeluarkan sendok mereka masing-masing, terdengarlah riuh akibat pukulan-pukulan sendok ke meja. Coba kalian ambil sendok logam dan pukulkan yang kuat ke meja kayu, bayangkan bunyinya jika dilakukan bersama-sama oleh 24 anak.

Saya : memikirkan cara menenangkan keriuhan itu, lalu, “nih, coba ikuti ketukan bapak!” lalu mencontohkan sebuah irama ketukan.

Kelas 5 : mengikuti ketukan saya sekuat tenaga. Tapi tidak berhenti.
(Ttteeeeeeeeeeeeeeeet!! Wrong move pak guru..!!)

Saya : “ayo kita mulai membuat magnet! Siapa yang mau membuat magnet???”

Kelas 5 : tampak terlalu asik dengan sendok dan meja mereka. Terlebih lagi karena mereka adu kuat bunyi antar sesama mereka.

Saya : mulai kesal. “yang masih pukul-pukul meja, tidak dapat magnet ya...”

Kelas 5 : beberapa mulai berhenti. Beberapa masih lanjut dengan alat musik mereka.

Saya : berjalan ke belakang dan mendiamkan satu persatu sampai di meja Amalan, salah satu anak kelas 5.

Amalan : sesaat setelah saya pergi meninggalkan mejanya, “TOK TOK TOK TOKKK!!!”

Saya :berbalik badan, “Amalaan, diam sudah, kita mau membuat sendok itu menjadi magnet..”

Amalan : “saya pak guruuuu!!!” (artinya: iya pak guru!)

Saya : berbalik badan untuk kembali ke depan kelas. tiba-tiba..

Amalan : “TOK TOK TOK TOK TOK!!!!!!!”

Saya : kesal. Berbalik badan dan berencana memberikan hukuman pada Amalan dengan mengambil sendoknya dan tidak memberinya magnet. Tapi begitu melihat mukanya, instead of doing my plan, saya tertawa lemas melihat ekspresi Amalan. Ekspresi kaget dan takut karena sebenarnya dia mungkin tidak sengaja. Dia hanya begitu tertariknya dengan sendok dan meja sehingga dengan cepat melupakan bahwa saya baru saja habis memberinya teguran. Dan seolah-olah begitu saya balik akan memarahinya, dia kembali ingat bahwa saya melarangnya memukul-mukul meja dengan sendok. Something like : Uups..! i am so dead!

Akhirnya karena saya tertawa lemas melihat ekspresi Amalam, seluruh kelas ikut menertawakan Amalan (atau menertawakan saya) sambil kembali –secara otomatis- membuat riuh dengan sendok dan meja mereka masing-masing. Saya memutuskan untuk membiarkan mereka. Atau sebenarnya saya hanya terlalu lemas tertawa dengan tingkah Amalan. Lalu beberapa saat kelas riuh. Dan yang ajaib adalah tiba-tiba mereka berhenti dan bersahutan bilang, “ayo sudah pak guru, mari kitong bikin leper (sendok) ini jadi magnet. Bagaimana caranya pak guru??” and just like that, mereka akhirnya belajar membuat magnet. Hahaha, my childrens..:)


****

Di kelas 5 saya sudah membuat peraturan dengan anak-anak, “boleh bermain bola pada jam istirahat asal tidak mengantuk di jam terakhir”. Awalnya mereka pikir gampang, tapi minggu pertama cukup membuat mereka sadar bahwa jika mereka bermain bola sepanjang istirahat yang hanya 25 menit itu, pastilah mereka akan mengantuk pada jam terakhir. Dan saya selalu menagih janji mereka. Itu membuat mereka mulai mencari alternatif permainan lain. Saya selalu membawa gitar dan beberapa puzle yang saya miliki dan ternyata cukup bisa mengalihkan mereka dari bola pada jam istirahat.
Hari itu, kamis, minggu ketiga semester 2. Pagi hari di sekolah berjalan baik-baik saja. Apel pagi dengan keceriaan dan semangat anak-anak. Saya masuk kelas dengan perencanaan matang, RPP lengkap untuk pelajaran sampai jam terakhir. Matematika, Pkn, dan Bahasa Indonesia. Jam istirahat tiba. Anak-anak langsung bermain bola di lapangan sekolah. Saya tidak melarang mereka karena kami punya perjanjian soal ini. saya pikir mereka tidak akan bermain sekuat tenaga karena ingat janji mereka. Lalu saya bunyikan lonceng tanda istirahat berakhir. Saya masuk ke kelas.

Saya tunggu 10 menit, baru setengah kelas yang masuk, sisanya masih mencuci kaki di pancuran air depan sekolah. Saya biarkan. Setelah mereka masuk saya langsung memulaii pelajaran bahasa Indonesia dengan mengeluarkan semua energi saya siang itu yang harus bersaing dengan panasnya cuaca siang itu. Siang itu tentang mendengar cerita dan membaca. Saya mengajak mereka meninggalkan kursi masing-masing untuk berkumpul di depan kelas duduk di lantai membuat lingkaran. Mulai saya rasakan aura-aura mengantuk pada anak-anak. Tapi saya lanjut dengan lebih bersemangat. Saya mulai dengan membacakan dongeng. Anak kelas 5 sangat suka dongeng biasanya, tapi siang itu entah kenapa terlihat hanya sebagian anak yang antusias mendengarkan. Sisanya mulai ada yang berbaring, mengganggu temannya, dsb. Oke, saya pikir jika saya membaca dongeng dengan lebih ekspresif mereka akan tertarik. Mulailah saya mengeluarkan bunyi-buyian aneh sebagai ekspresi dari tokoh dalam dongeng. Hasilnya, tidak jauh berubah. Rencana saya siang itu adalah setelah saya membacakan satu atau dua dongeng, saya ingin mereka membaca dongeng secara bergantian. Seperti cerita saya di post sebelumnya, anak-anak Pelita cukup tertinggal dalam kemampuan baca tulis. Hanya beberapa orang di kelas 5 yang bisa membaca cepat dan lancar dengan intonasi tanda baca, sisanya biasanya tabrak lari tanda baca. Karena itu saya ingin mereka membaca dongeng ini.

Keadaan kelas makin tidak terkendali. Sebagian anak sudah pindah ke belakang kelas dan tidur. Siang itu saya memilih untuk tidak menegur mereka. Saya memilih untuk menyelesaikan satu putaran giliran membaca. Setelah semua akhirnya mendapat giliran membaca, saya merapikan barang-barang di meja saya di depan kelas. Sebelum keluar kelas saya mengingatkan mereka untuk membuat PR. “kitong pulang lagi pak?”, “bapak mau pulang, kalian bebas mau bikin apa sampai jam 12 nanti”. Siang itu masih jam 11.30 waktu saya meninggalkan kelas. Saya ingin memberikan sedikit shock therapy ke anak-anak yang ternyata cukup bekerja. Anak-anak merasakan ada yang tidak beres dan langsung saling berbisik-bisik. Begitu saya ke ruang guru untuk mengambil beberapa barang, mereka menghampiri saya. Cuma menghampiri, tidak bertanya apapun. Lalu saat saya pulang pun mereka mengikuti saya sampai rumah. Sebelum masuk rumah saya sekali lagi mengingatkan mereka makan siang di rumah dan mengerjakan PR. Saya sama sekali tidak marah, hanya ingin membuat anak-anak memikirkan kesalahan mereka.

Sekitar jam 2 siang sehabis saya makan siang, saya mengerjakan RPP sambil mendengarkan musik dari leptop di kamar. Di luar rumah saya bisa mendengar anak-anak kelas 5 berkumpul. Mereka masih membahas kejadian siang hari di sekolah. Saya bisa mendengar mereka dari dalam kamar. “ngana tuh, tidor di belakang tadi tuh”, “ih ngana tuh baribut, pahe!” mereka mulai saling menyalahkan satu sama lain mencari penyebab kejadian siang tadi. Sampai akhirnya saya tidak mendengar lagi suara mereka di luar. Tiba-tiba adik angkat saya, Eba, mengetuk pintu dan mengatakan anak-anak kelas 5 menunggu saya di depan. Saya keluar dan mereka berbaris rapi di teras. Abdurrahmanwahid, ketua kelasnya angkat bicara, “pak guru, kami mau minta maaf”. Hal yang sebenarnya tidak saya duga. Lalu saya tanya, “minta maaf kenapa?”, “kami sudah bikin pa guru marah..” Abdurrahman menjelaskan. Lalu saya tanya lagi dengan sekuat tenaga menahan sumringah karena sebenarnya saya bangga sekali pada mereka, “memang kalian bikin apa tadi?”. mereka memberikan jawaban yang sepertinya sudah mereka musyawarahkan. Mereka tahu kalau saya tidak suka saat mereka sudah mulai saling menyalahkan satu sama lain. “kami semua melanggar peraturan pak guru, semua peraturan kelas 5 yang kami buat sendiri”. Dan saya tidak tahan lagi menahan senyum, akhirnya saya bilang “iya sudah bapak tara marah.. bapak maafkan..”. Mereka juga bilang tidak akan mengulangi kesalahannya lagi. Saya sebenarnya bahkan tidak marah sedikitpun. Yang saya harapkan sebenarnya hanya mereka hadir esok harinya dan merasa harus bersikap lebih baik. But i got more. Siang itu saya senang sekali menemukan kalau anak-anak saya ternyata berani datang dan meminta maaf. I’m very proud of them..

Lalu setelah itu saya suruh mereka mengerjakan PR. Mereka bolehmengerjakan di rumah saya jika mereka mau. Lalu seperti biasa, sore itu rumah saya ramai dengan anak-anak yang mengerjakan PR dan bermain gitar, membaca buku-buku saya atau sekedar memperhatikan teman-temannya. Tiba-tiba salah seorang bertanya,“pak guru berarti tara jadi pulang ke Jakarta toh?” tanya Naim yang sepertinya termakan omongan teman-temannya..hahaha..

Saya pikir-pikir, sebenarnya dari kecil kita polos. Merasa salah, ya minta maaf. Jadi kalau sekarang ada diantara kita yang masih takut meminta maaf atas kesalahannya, jangan sebut dia kekanak-kanakan. Karena anak-anak ternyata tidak seperti itu. Itu tadi contohnya, anak-anak saya.

****

Di akhir minggu ketiga, saya menjanjikan kepada anak-anak mengajak mereka piknik ke Pulau Ambatu di seberang desa Pelita. Tentang pulau Ambatu juga pernah saya ceritakan di postingan sebelum ini di blog saya. Saya menjanjikan piknik itu dengan syarat anak-anak harus berlaku baik dan mengerjakan PR mereka. Dan karena 3 minggu berjalan cukup baik, saya memenuhi janji saya. Kami piknik ke Ambatu. Saya meminjam ketinting berbadan agak besar yang bisa membawa 24 anak-anak kelas 5.

Waktu berangkat, mesin ketinting kami bermasalah. Ternyata tanki bensin kemasukan air dan harus dikuras menggunakan selang kecil. Masalahnya, kami sudah terlanjur berada sekitar 200 m dari depan dermaga Pelita dan di ketinting tidak ada selang. Tiba-tiba Man, salah seorang anak yang sejak berangkat mengenakan life vest yang saya bawakan, menyeburkan diri dan berenang ke arah darat. Saya kaget dan menyuruhnya kembali. Dia hanya berteriak pada saya bahwa dia akan pulang mengambil selang. Not cool man!, mereka ini di bawah tanggungjawab saya. Bagaimana kalau Man tenggelam? Saya terus menyuruh Man kembali tapi dia tetap berenang. Anak-anak yang lain meyakinkan saya dengan mengatakan, “tenang pak guru, Man itu rajanya air masing”. Memang saya tahu Man ini sangat lincah di air. But still, 200 meter dari darat!

Saya tidak melepaskan pandangan dari Man. Jika terjadi sesuatu, saya tahu saya harus menyelamatkan Man. Saya bisa berenang, tapi berenang 200 meter di laut tanpa lifevest, nah ini saya belum pernah coba. Apalagi dalam keadaan panik. Tapi melihat Man mengenakan lifevest membuat saya sedikit tenang karena paling tidak dia akan tetap mengambang di permukaan. Singkat cerita, Man kembali membawa selang dan ketinting kami berhasil saya perbaiki. Man, “si raja air masin”.

Piknik selesai, anak-anak senang, kami bersiap untuk pulang. Saya mengingatkan anak-anak untuk memastikan barang-barangnya tidak tertinggal. Sebelum naik ke ketinting saya menghiting jumlah dan masih pas. setelah berjalan beberapa menit, Man tiba-tiba berdiri dan berteriak menunjuk ke arah Pulau Ambatu yang baru kami tinggalkan, “pak guru, ada orang tertinggal satu itu..!!!” saya kaget, membalik badan dan mencari orang yang Man maksud. Saya tidak melihat siapa-siapa. Tapi Man masih menunjuk-nunjuk, “itu pak guru..itu..!!”. lalu saya tanya, “siapa??”. Tiba-tiba Man tertawa diikuti anak-anak yang lain. Saya dikerjai! They really got me!
Saya sadar, Man mengerjai saya sepertinya dalam rangka mebalas. Memang beberapa kali saya senang mengerjai anak-anak dalam candaan-candaan seperti yang sering saya lakukan pada teman-teman saya. Dan siang itu saya melihat muka Man saat berhasil mengerjai saya, puas sekali, muka kemenangan, seperti muka saya saat berhasil mengerjai teman-teman saya dulu. Ngeselin parah! Hahahaha..they are adorable..

Saturday, January 1, 2011

Let's Live With No Regret Guys..! Selamat Tahun Baru Semuanya..

Sebenernya niat bikin tulisan ini bukan karena penghujung tahun, tap momen akhir taun 2010 bikin gw inget lagi dulu pernah niat bikin tulisan ini. karena momen awal tahun gw sepertinya adalah pas 10 November 2010 kemaren waktu kami –Pengajar Muda yayasan Indonesia Mengajar- dilepas di Bandara Soekarno-Hatta untuk berangkat ke daerah penempatan masing-masing. Somehow, momen itu seperti lembar baru fase kehidupan gw. Setahun gw bakal meninggalkan kehidupan kota dan hidup sebagai orang Desa, mengajar di SD, belajar tentang ke-Indonesia-an dari kehidupan di Desa. Ini adalah suatu anugerah besar yang Tuhan kasih ke gw, menurut gw. Kadang gw mengingat-ingat apa-apa aja yang pernah gw lewatin sampe gw ada di titik kehidupan gw sekarang. Everythings happened for a reason. Menurut gw menarik mengait-ngaitkan apa yang kita jalanin sekarang dengan apa yang pernah kita lalui sebelumnya. So here i am trying to remember what i’ve been through until now.

Gw pengen mulai dari momen kepindahan gw dari Bandung ke Pekanbaru sekitar tahun 2000 yang lalu. Sebelum pidah. gw sekolah di SLTPN 9 Bandung. Bukan sekolah unggulan, tapi cukup bagus pada masa itu. Bagi anak kelas 2 SMP berumur 13 tahun, yang baru kenal masa2 “bandel”, kenal-kelanan sama cewek, punya temen main yang aktivitasnya beda sama anak2 SD, pindah tempat tinggal itu bukan perkara yang ringan. Apalagi pindah ke kota yang jauh dari Bandung, beda pulau, dan bikin gw gabisa sering2 ke bandung buat ketemu temen2 gw lagi. Sebelum pindah gw sempet uring-uringan bikin nota protes uspaya ga jadi pindah. Tapi yah, kalian pasti tau aksi gw itu cuma akan sia2. Pindahlah gw sekeluarga ke Pekanbaru, Riau. Dari kepindahan itu, sekarang gw sadar kalo gw belajar sesuatu tentang adaptasi. Karakter orang-orang sumatra jelas beda dengan orang2 di jawa. Walaupun gw asli orang Minang, tapi dari lahir gw selalu tinggal di Bandung. Jadi masa awal-awal pindah emang cukup berat buat gw. Sebulan pertama gw sekolah di sekolah baru, SMP Cendana Rumbai, seinget gw udah 3 kali berantem sama anak yang akhirnya jadi temen-deket gw di sekolah baru itu. Masalahnya sepele : perbedaan kebiasaan-kebiasaan dan (mungkin) ketengilan gw karena (merasa) populer sebagai anak pindahan dari Bandung. Haha, kids..

Abis masa SMP, gw masuk ke SMA Negeri paling oke di Pekanbaru, SMUN 1 Pekanbaru. Yah, atleast itu yang diyakini anak2 SMUNSA, kami lebih baik dari SMUN 8 Pekanbaru, begitu juga sebaliknya. Sama lah dengan SMA 3 dan SMA 5 Bandung kasusnya. Masa SMA gw juga banyak dihabiskan dengan organisasi dan bolos. Selain belajar yang rajin tentunya hahaha.. gw inget pernah jadi ketua Majelis Persmusyawaratan Sekolah dan sering banget bolos pas kelas 3 (kalo mama baca pasti mama bersyukur karena kalo pas SMA gw kerajinan dan ga sering bolos pasti ntar kuliahnya malah di MIT dan jauh banget dari mama, hehe :D). Oh, dan gw juga inget pernah punya band sama anak2 di SMA yang pada masanya pernah cukup terkenal di Pekanbaru, atleast menurut gw dan temen2 se-Band, hehe. Yah over all masa2 SMA gw rasanya lengkap, and i am greatfull for that.

Kuliah di ITB. Fase ini menurut gw fase yang banyak banget mempengaruhi dan ngebentuk pola pikir gw sekarang. Dari banyak kegiatan yg pernah gw jalanin di kampus, momen kekalahan di pemilihan ketua himpunan HMTL jadi salah satu yang paling penting. Momen itu ngajarin gw soal mengevaluasi diri dan kebesaran hati. Momen berharga banget. Lalu dinamika2 lain seperti jadi Danlap di acara level kampus yang di-Ilegalkan oleh rektor, jadi Menteri PSDM kabinetnya Ijul, sampe akhirnya jadi Koordinator Kongres KM ITB banyak banget memberikan pengaruh terhadap perkembangan pola pikir gw. Kehidupan sosial gw di kampus juga seru. Keluarga gw di kampus adalah HMTL. Banyak banget lah yang gw pelajarin dari Himpunan itu. Terus sahabat2 deket seangkatan yang luar biasa, kelakuannya aneh2, tapi menyenangkan. Dari mereka, gw juga belajar banyak hal. Terus kehidupan percintaan, haha aduh yang ini juga seru. Semua itu berjalan dalam keseluruhan kehidupan kampus banyak ngasi gw sudut pandang baru dan pola pikir yang berkembang. 5,5 tahun gw di kampus rasanya puas. Ngerasa udah mengoptimalkan apa yang kampus punya untuk dipelajari.

Fase berikutnya adalah kerja. Kerja pertama gw sejak lulus, -well, lebih tepatnya sebelum lulus sih- adalah manjadi seorang Junior Enviro Supervisor di Sebuah perusahaan Petambangan Batubara yang punya site di Kalimantan Timur. Sebelum akhirnya gw ditempatin di site, gw sempet sekitar 3 bulan ditempatin di office di Balikpapan. Sekali2 ke site buat survey tapi lebih banyak menetap di balikpapan. Gw nge-kos, tiap hari bolak balik kantor, ngegambar, bikin report, dan pekerjaan2 kantoran lainnya. Niat gw kerja disini emang cuma pengen ngerasain pengalaman kerja profesional. Suasana kerja dan rekan2 kerjanya menyenangkan, but i have to admit that i was bored. Dari kebosanan itu juga akhirnya gw nemu tempat main yang menyenangkan tiap malem, yang juga punya peran penting buat gw dalam memantapkan apa yang pengen gw lakukan sebenernya. Panti asuhan Al-Furqan, panti dengan 25 anak asuh yang 9 diantaranya anak SMP dan SMK bikin gw makin gelisah sebenernya dengan kerjaan gw yang lama. Anak2 ini yang ngajarin gw ke-Indonesia-an yang nyata. Setiap malam, pulang kantor, gw main ke panti untuk nemenin mereka belajar pelajaran sekolahnya. Sesuatu yang menarik gw rasain dari mengajar anak2 itu, sesuatu yang bikin gw merasa lebih hidup. Sejak saat itu gw makin mempelajari lagi masalah2 pendidikan Indonesia. Waktu akhirnya gw dipindah ke site, sebenernya gw makin gelisah karna ga bisa lagi ke Panti untuk nemenin anak2. Semua rutinitas gw lakuin karna profesionalitas aja. Sampe akhirnya gw baca email rekrutment Indonesia Mengajar. Gapake pikir panjang, somehow gw ngerasa ditunjukin jalan, gw langsung apply online dan menunggu hasil. Di kerjaan gw yang lama itu, jadwal kerjanya adalah 6 minggu di site dan 2 minggu cuti. Selama 6 minggu itu gw akan selalu ada di site yang lokasinya somewhere di tengah hutan Kutai Barat, Kaltim. Begitu dapet cuti selama dua minggu gw boleh terbang kemanapun tujuannya dan berlibur. Seperti memang udah jalannya, gw lolos seleksi pertama Indonesia Mengajar dan diharuskan dateng ke Jakarta untuk tahap selanjutnya, Direct Assessment, yang jadwalnya ada di dalem jatah cuti 2 minggu gw. Akhirnya, sebelum seleksi tahap 3, Medical Check up, gw udah memutuskan buat resign dari kerjaan gw yang lama. Agak nekat sih, but that was feels right. Dan gw memilih untuk meyakinkan diri kalo gw akan keterima di IM.
Alhamdulillah, gw keterima dan ada di Desa Pelita sekarang.

Masa2 training Pengajar Muda pra deployment juga menarik. Gw dikumpulkan satu atap selama 7 minggu dengan orang2 yang punya passion sama. Waktu awal gw apply IM, sempet mikir “ada ga ya yang mau daftar juga?”, dan itu terjawab pas akhir2 sebelum dirrect assessment gw tau kalo yang daftar sampe 1300an orang. Man! Rasanya lega, tau kalo banyak banget anak2 muda yang semangat banget buat jalan2. Loh?haha. Banyak proses yang terjadi di trainingcamp Pengajar Muda. Pembenturan2 pemahaman, belajar bareng soal keguruan, saling mentransfer semangat dan energi, bertukar ilmu dan pengalaman, membangun cita2, dan ga ketinggalan, jatuh cinta. Hehe. 7 minggu itu udah ngasih keluarga baru dan tentunya jaringan baru buat gw. Sahabat2 baru gw yang luar biasa itu mengajarkan gw banyak hal. Dan mereka sedang berjuang masing2 sekarang di rumah baru mereka.

Gw pengen berterimakasih buat Mama dan Papa. Semua perjalanan gw bisa seperti itu gw yakin karena apa yang Mama dan Papa ajarin sejak gw lahir. Dua orang luar biasa yang masing2 punya peran besar banget dalam ngebentuk gw. Terimakasih buat semua kata yang keluar dari hati melalui mulut mereka dalam mendidika gw, buat tembok rumah yang mereka izinkan untuk gw dan abang jadiin kanvas lukis, buat semua tretment mereka. Ga akan abis kalo gw ceritain disini tentang Mama dan Papa. Terlalu banyak detail menarik dari mereka. Yang jelas, mereka juaranya lah. Terus juga buat abang Reza dan Uwi, dua sodara laki2 gw, temen berantem waktu kecil, temen ngakalin peraturan mama, dikurung bareng di kamar mandi, terimakasih udah ngasih kesempatan gw belajar jadi adik yang baik (setuju aja lah bang), dan abang yang baik buat (kamu harus setuju wi!:p). Makasi buat semua yang terlibat dalam penciptaan lingkungan masa kecil gw, karna itu yang menanamkan banyak waktu kecil.

Makasih juga buat semua temen2 SD, SMP dan SMA. TL 2004 juga punya peran penting ngajarin gw banyak hal, banyak sekali. Temen2 yang ngerti gw, dan sangat menyenangkan. HMTL, Kampus, rumah kedua gw selama kuliah, semua kegiatan di dalamnya dan orang2nya luar biasa. Gw juga sangat berterimakasih atas 7 bulan gw kerja di Kaltim, 7 bulan yang panting sekali.

Oke cukup, gw semakin merasa ujung2 tulisan ini mirip kata pengantar di Tugas Akhir. Intinya gw Cuma pengen bilang makasi buat semua orang dalam hidup gw. Ga peduli orang itu kenal sama gw dalam kesan menyenangkan atau ngga, gw berterimakasih. Gw ga nyimpen rasa benci sedikitpun kepada siapapun sekarang. Karna apapun kesannya, semuanya adalah bagian dari perjalanan ini. jadi sekali lagi, terimakasih. Semoga Tuhan membalas semua amal baik kalian guys.

Gw selalu yakin, takdir hanyalah sesuatu yang sudah terjadi, dan apa yang belum terjadi adalah yang harus kita usahakan sekuat tenaga. So we can live with no regret, at all.

Terimakasih Tuhan atas semua yang Engkau berikan. Jagalah kami semua dengan kekuatan supaya bisa mengusahakan yang terbaik, dan dengan keikhlasan supaya kami tidak menghabiskan waktu kami dengan mancaci masa lalu. Amin.

Pelita, 31 Desember 2010
(Hujan seharian ini bikin udaranya adem kaya di bandung)

Semester 2, Here I Come..!

Here i am writing something again.

Sudah hampir masuk bulan ketiga saya di Desa Pelita. Waktu cepat sekali rasanya disini. Sejak 12 November lalu PM Halsel sudah sampai di Desanya masing-masing. Dan sampai saya membuat tulisan ini, sudah 1 bulan 18 hari tepatnya kami hidup bersama orang-orang di desa masing-masing. Life’s going great here in Pelita. Saya makin mencintai semua detail desa ini. orang-orangnya, anak-anak, sekolah, rumah, bahkan kasur dan bantal tidur saya. Oh, tidak untuk melupakan nyamuk-nyamuknya yang ganas-ganas-ngegemesin-minta dihajar yang sukanya main keroyokan. Hehe.

Saya ingin cerita tentang rencana umum yang sudah saya susun untuk menghabiskan sisa waktu yang menurut saya tidak lama lagi di Pelita ini, 10 bulan tersisa. Dari 4 arahan besar PM yang kami terima, setelah observasi 2 bulan ini saya sekarang sudah mendapat gambaran tentang apa yang akan saya lakukan untuk keempat arahan itu. Yang kesemuanya harus dan akan saya selesaikan sebelum oktober 2011, sebulan sebelum undeployment PM karena saya harus mentransfer apa yang saya sudah lakukan pada PM yang akan menggantikan saya di Pelita. Rencana ini sangat mungkin ter/di improvisasi dalam perjalanannya. Oh saya suka sekali kerjaan seperti ini, saya hanya diberikan arahan besar lalu saya bebas menentukan apa yang saya lakukan selama setahun ini. Buat saya ini bukan seperti kerjaan jadinya, tapi bersenang-senang menjalani hidup.

Kegiatan Kurikuler

Sejak saya mulai mengajar november lalu sampai habis semester I 2010-2011, saya sudah pernah mengajar di semua kelas. Sifatnya insidental. Beberapa kali saya harus mengajar dadakan menggantikan guru yang tiba-tiba harus ke Labuha mengurus pendaftaran CPNS atau hal lain. Dalam proses mengajar saya itu saya mulai menerapkan apa yang pernah saya pelajari selama training mulai dari pengkondisian kelas sampai perancangan RPP yang kreatif. Beberapa kali anak kelas 6 dan kelas 5 saya ajak belajar IPA di dermaga desa atau sekedar berjalan-jalan melihat hutan. Dari sana saya mengobservasi sebanyak mungkin kondisi anak-anak dan cara belajar mereka.

Di semester 2 yang akan dimulai sebentar lagi, saya bersama kepala sekolah dan guru lain sudah memutuskan bahwa saya akan menjadi guru kelas 5. Ada sedikit perubahan dari rencana awal. Tadinya saya akan menjadi guru mata pelajaran Matematika, IPA dan Bahasa Inggris untuk kelas 4,5 dan 6, tapi ternyata ada satu guru yang semester 2 ini akan pindah sehingga SDN Pelita akan kekurangan guru kelas. Ditambah saya, sekarang guru Pelita pas berjumlah 6 orang, cukup untuk memegang masing-masing kelas. Oke, ini menarik. Kebetulan saya lebih mengenal anak-anak kelas 5 karena sepanjang ujian semester kemarin saya bersama kelas 5 menggantikan guru kelasnya yang sedang tes CPNS ke Labuha. Selain menjadi guru kelas, saya juga ditunjuk untuk menjadi guru pada jam pelajaran tambahan untuk kelas 6 dalam rangka persiapan menghadapi UN Mei 2011 yang akan datang.

Dalam hal persiapan, saya dan guru-guru lain sepakat untuk mambuat rencana ajar untuk semester 2 ini bersama-sama. selama ini menurut kepala sekolah belum pernah ada rencana ajar yang berkesinambungan dan efektif. Itu karena guru-guru jarang mendapatkan training dan pengawasan. Soal ini sudah saya ceritakan di post sebelum ini. semester 2 ini saya akan coba membuat suatu turunan KTSP yang simple. Saya memilih tidak menggunakan istilah-istilah seperti RPP dan sejenisnya untuk menghindari kesan rumit. Tiap guru di semester 2 ini akan memiliki sebuah kertas besar yang akan ditempel di belakang meja masing-masing. Kertas itu akan berisi kejaran-kejaran mingguan setiap guru yang akan rutin dievaluasi bersama tiap akhir minggu. Jadi kami bisa bersama-sama saling mengevaluasi dan memberikan masukan untuk minggu berikutnya. Saya tahu, saya harus membuatnya terlihat sesimpel mungkin supaya rencana ini bisa berjalan konsisten sampai akhir semester dan akhirnya bisa diteruskan di tahun-tahun berikutnya karna sudah menjadi kebiasaan baru.

Di awal semester, saya akan mengambil 2 minggu pertama untuk mengkondisikan kelas dengan rules yang akan dirancang bersama oleh anak-anak. Anak-anak akan saya kasih 3 lembar kalender bekas untuk menyampul buku tulis dari tiga mata pelajaran yang saya ajar. Ini saya lakukan untuk membiasakan anak-anak merawat bukunya. Buku tulis mereka tidak terawat selama ini. Saya juga akan memulai pengkondisian kelas untuk menciptakan suasana kelas sebagai suasana kelompok belajar, sebuah tim yang sedang belajar bersama, hal yang saya pelajari dari buku learning to teach 1.

Beberapa kali saya mengingat-ingat dengan keras bagaimana keseharian saya waktu SD dulu. Apa metode-metode yang diterapkan di kelas oleh guru saya. Bagaimana cara mereka memberi hukuman, cara mengajar, cara mengapresiasi. Sedikit banyak itu membantu saya dalam menyusun rencana ajar semester 2 ini.

Pembelajaran Masyarakat

Bagian ini saya ceritakan lebih dulu sebelum bagian kegiatan ekstrakurikuler karena memang berkaitan dan akan saya bagian ini lah yang akan saya insisiasi lebih awal. Ada dua bidang yang saya rencanakan, pertama adalah yang masih berkaitan dengan pendidikan formal sekolah dan yang kedua adalah yang sifatnya pemberdayaan masyarakat desa.

Anak SMA di Pelita berjumlah hanya sekitar 35 orang. Saya berencana untuk mengaktifkan kegiatan untuk mereka di luar sekolah. Seminggu 3 kali, malam hari, mereka akan saya ajak kumpul di sekolah mereka yang kebetulan terletak di depan rumah saya, untuk belajar hal-hal apa pun yang bisa saya share dengan mereka. Bisa belajar dasar-dasar komputer, bahasa Inggris pemula, public speaking, pidato, atau bahkan sekedar nonton film bersama dari laptop saya sambil bakar jagung. Apapun yang positif. Yang saya ingin bentuk adalah komunitas kegiatan untuk anak-anak SMA supaya kegiatan mereka bisa berkembang ke arah positif dan bermanfaat bagi mereka kelak. Setalah komunitas itu berjalan, komunitas memang saya rancang untuk bisa juga membantu saya melakukan tugas saya di bidang lain. Untuk ekstrakurikuler misalnya, saya mengharapkan dan akan menginisiasikan supaya anak-anak SMA bisa menjadi pelatih dan pembina Pramuka untuk adik-adik mereka di SD. Lalu untuk bidang pemberdayaan masyarakat, anak-anak SMA akan saya arahkan untuk menjadi motor penggerak program Desa Percontohan Pengelolaan Persampahan Terpadu Daerah Kepulauan yang akan saya rancang.

Bagian pemberdayaan masyarakat yang saya rencanankan adalah program Desa Percontohan Pengelolaan Persampahan Terpadu Daerah Kepulauan. Kenapa persampahan? Karena sejalan dengan background Teknik Lingkungan saya dan juga masalah ini lah yang saya lihat di desa-desa kepulauan seperti Pelita ini. Secara umum saya gambarkan, desa kepulauan punya masalah dengan tempat pembuangan atau pemrosesan akhir. Paradigma persampahannya adalah : buang ke laut sore ini, besok pagi sampah sudah hilang ditelan laut. Saya sedang memikirkan apa jenis pengolahan yang tepat untuk desa seperti ini. sejauh ini saya memikirkan kompresi dan penyimpanan sementara dan secara berkala dikirim ke Labuha untuk diantar sampai TPA yang baru akan selesai dibangun sekitar 8 bulan lagi berdasarkan informasi dari BPLHK (Badan Pengelola Lingkungan Hidup dan Kebersihan) Kabupaten Halmahera Selatan yang saya satroni minggu lalu. Kepala bagian Kebersihan BPLHK yang saya temui sangat antusias dengan rencana saya menjadikan Pelita sebagai Desa percontohan. Mudah-mudahan setahun ini saya bisa merampungkan sebuah modul sederhana terkait program ini supaya bisa diterapkan di Desa-desa lain di Kepulauan Halmahera Selatan ini.

Masyarakat Pelita juga antusias begitu saya bilang ingin menjadikan Pelita menjadi desa percontohan. Step yang saya mulai adalah pembiasaan pengumpulan sampah. Di desa ini tidak ada tempat sampah. Karena memang sampah tidak pernah terlalu lama disimpan sebelum dibuang ke laut. Di sekolah, saya sudah membuat tempat sampah dari drum bekas dan akan menginisiasi “polisi kebersihan” dari anak-anak SD. Lalu pelan-pelan akan dimulai juga kegiatan pengomposan sederhana skala rumah. Orang peilta sebagian besar juga berkebun. Jadi ,mereka tidak akan bingung memakai hasil komposnya. Dan seperti yang sudah saya ceritakan tadi, ini semua akan jadi program yang dijalankan oleh komunitas anak-anak SMA yang akan saya inisiasi.

Sangat sayang jika laut kepulauan Halmahera ini tidak dijaga. 10 tahun lagi mungkin belum terasa dampaknya karena daya dukung lingkungannya masih sangat tinggi dan perkembangan teknologi sulit masik kesini. Tapi itu bukan alasan untuk tidak perlu berperilaku baik terhadap lingkungan.

Kegiatan Ekstrakurikuler

Yang formal yang akan saya inisiasi adalah Pramuka. Tapi belakangan saya mulai berpikir untuk menginisiasi PMR. Since there’s no nurse here in Pelita, dan anak-anaknya punya resiko kecelakaan yang tinggi akibat kebiasaan-kebiasaan mereka, saya pikir pengetahuan dasar pertolongan pertama bagus untuk anak-anak. Dua rencana inisisasi ekskul itu belum akan saya lakukan di awal semester. kegiatan ini juga bagian dari pemberdayaan anak-anak SMA yang saya rencanakan. Jika nantinya ada ekstrakurikuler di SDN Ambatu, maka pelatih-pelatihnya adalah kakak-kakak mereka sendiri.

Advokasi Pendidikan

Untuk bagian ini, mungkin yang lebih terprogram adalah kegiatan level Kabupaten bersama teman-teman PM Halsel. Kami merencanakan dua kegiatan level Kabupaten yaitu peringatan hari anak dan hari pendidikan nasional. Dua acara itu sudah dalam tahap pendetailan dan akan di eksekusi bulan Mei dan Juli 2011. Kegiatan itu juga melibatkan Dinas Pendidikan Halmahera Selatan dan stakeholder lain. Saya berencana untuk melibatkan anak-anak SMA di Pelita untuk membantu pelaksanaan kegiatan ini.

Advokasi pendidikan yang secara individu saya lakukan mungkin sifatnya insidental karena saya pikir pasti akan sejalan dengan semua kegiatan lain yang saya lakukan. Misalnya, awal semester nanti saya akan memberikan pelatihan dasar komputer kepada guru-guru SDN Pelita supaya mereka bisa memanfaatkan teknologi dalam proses mengajar, dokumentasi dan keperluan-keperluan lain. Ada juga rencana kunjungan orang tua siswa di sepanjang semester 2 untuk melakukan pendekatan-pendekatan informal dengan tujuan mendukung proses belajar anak-anak Pelita.

***

Itu adalah semua rencana saya yang sejauh ini sudah saya susun mengenai aktivitas 10 bulan kedepan. Itu rencana ideal. Saya tahu dan sangat yakin bahwa pasti banyak hal yang akan memaksa saya improvisasi. Seperti misalnya jumlah guru yang pas-pasan, bukan tidak mungkin selama sebulan hanya akan ada 3-4 guru di Pelita dan itu mau tidak mau menuntut penyesuaian di sana-sini jika saya tetap ingin menjadi guru mata pelajaran tapi juga bisa membantu mem-backup kelas-kelas yang tidak ada guru. Hal itu juga akan mempengaruhi konsistensi guru-guru dalam membuat rencana dan evaluasi mingguan. Belum lagi masalah anak-anak SMA yang mungkin saja tiba-tiba menghilang sebulan atau dua bulan karena bekerja di Ternate atau pulau Obi mencari tambahan uang. Atau bisa juga masalah ketertinggalan anak-anak SDN Pelita yang banyak disebabkan jarangnya mereka menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan juga jarang membaca buku sehingga daya serap terhadap apa yang mereka baca sangatlah rendah. Pasti hambatan-hambatan seperti itu akan selalu ada di depan saya nanti.

Saya tahu satu hal, bahwa kemungkinan saya gagal menjalankan semua rencana saya pasti ada. tapi hal lain yang saya tahu adalah saya akan melakukan yang terbaik yang saya bisa. Bismillah, semoga saya selalu diberi kesehatan supaya tidak ada absen berkegiatan seharipun di Pelita.
Banyak orang mungkin tidak tahu dimana itu Pelita. Bahkan di Peta saja tidak ada.
Tapi saya yakin Tuhan tahu bahwa ada karya-karya luar biasaNya di sini, di Pelita.
Semoga Tuhan bersama anak-anak Pelita.

“anak-anak, ngoni mau belajar apa hari ini..?”
“rahasia tentang apa yang ngoni mau tau hari ini..?”
“mari, Pak Guru kase ngoni tau Pak Guru pe rahasia!”

Saturday, December 4, 2010

A Great 1st Week

Desa Pelita, Minggu, 28 Nov 2010

Sudah seminggu penuh saya mengajar di SDN Ambatu Pelita. Di SDN tanpa nomor karena memang cuma satu-satunya di Pelita. Saya ingin share pengalaman seminggu kemarin. Ini termasuk minggu yang penting menurut saya karena merupakan minggu yang menentukan kesan pertama saya bagi murid-murid Pelita. Secara umum minggu ini berjalan sangat baik. Ditutup dengan jalan-jalan bersama anak-anak kelas 6 ke Pulau Ambatu di seberang desa kami, Pelita.

Minggu ini diawali dengan upacara bendera di halaman sekolah. Untuk pertama kalinya saya bertemu dengan murid-murid secara formal di sekolah. Sebelumnya kami sudah sering bertemu di dermaga tempat mereka bermain atau di jalan-jalan desa. Upacara berjalan khidmat, tapi yang cukup menarik adalah lagu Indonesia Raya disini dinyanyikan dengan nada agak aneh di beberapa bagian lagu yang belakangan saya tebak mungkin karena mereka sering menyanyikan lagu-lagu band melayu masa kini yang banyak cengkok-nya. Hari Senin, saya yang direncanakan akan sit in di semua kelas secara bergantian akhirnya hanya masuk di kelas 6. Ternyata guru kelas 6 tidak masuk dan memang sering seperti itu. Saya masuk di kelas 6 memperkenalkan diri dan mengajarkan lagu-lagu anak-anak yang saya dapat selama trainingcamp Pengajar Muda, lagu “jempol” dan lagu “Red and White”. Anak-anak kelas 6 sangat antusias bernyanyi, mungkin karena sebelumnya tidak pernah ada pelajaran bernyanyi.

Hari senin saya lalui tanpa lesson plan. Semua mengalir saja, hanya berkenalan dan bernyanyi. Tapi lalu saya mulai mencoba sedikit mengajarkan sesuatu, matematika, sekaligus saya pikir bisa saya jadikan alat observasi kemampuan anak-anak. Saya mulai dengan perkalian sederhana. Perkalian puluhan yang mengharuskan anak-anak mencakar di buku mereka masing-masing. Sebagian besar mampu menyelesaikannya dengan benar walaupun dengan waktu cukup lama, berbeda dengan anak kelas 6 di kota besar yang rata-rata pasti sudah fasih kali-kalian. Sepertinya mereka jarang berlatih sehingga masih belum terlalu lancar melakukan operasi hitung itu. Lalu saya beralih ke operasi hitung ratusan. Mungkin karena tidak terbiasa, mereka menyerah dan tidak ada satupun yang mampu menyelesaikan soal yang saya berikan. Saya lalu mencontohkan di depan cara menyelesaikannya. Saya minta mereka membantu saya dari kursi masing-masing. Agak malu-malu mereka membantu saya yang sedang memberi contoh di depan. Somehow saya menangkap perasaan takut mereka terhadap matematika, entah apa sebabnya. Hari Senin itu saya tutup dengan memimpin apel pulang. Di SDN Ambatu Peliita ada kebiasaan apel pagi dan sebelum pulang yang saya pikir adalah suatu kebiasaan yang baik. Apel yang biasanya Cuma berbaris dan pengumuman, saya tambahkan dengan bernyanyi bersama lagu “jempol” yang sudah saya ajarkan. They love singing!

Selasa, 23 November, saya datang ke sekolah dengan lesson plan. Anak kelas 6 belajar IPA tentang penghantar panas. Saya ajak mereka ke dermaga. Awalnya mereka bingung karena diajak keluar sekolah saat jam pelajaran, tapi setelah saya jelaskan ini bagian dari pelajaran IPA mereka langsung girang karena mereka pikir bisa sambil main ke dermaga. Mereka saya arahkan untuk berbaris sepanjang perjalanan, bernyanyi, dan izin jika ada yang harus meninggalkan barisan. Saya ambil alat-alat peraga sederhana berupa air panas, gelas dan beberapa alat lain untuk percobaan IPA. Pelajaran IPA hari itu menyenangkan. Anak-anak antusias menjawab pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan di bawah pohon besar di dekat dermaga. Suasana hari kedua sudah mulai cair sehingga anak-anak semakin tidak kaku dan menunjukkan sifat aslinya, hehe. Lalu kami semua kembali ke sekolah dan melanjutkan pelajaran di kelas. Lalu disini saya memukan hal yang menarik.

Di kelas saya ajak anak-anak me-review kegiatan mereka di luar tadi. Lalu saya terjemahkan di papan tulis menjadi beberapa hal yang saya pikir perlu mereka catat karena mereka tidak punya buku paket sehingga bagi mereka sepertinya urgensi mencatat menjadi lebih tinggi. Sambil mereka mencatat, saya memperhatikan mereka satu per satu. Secara umum tidak jauh berbeda dari anak SD di kota, mereka semua memakai seragam Putih Merah. Tapi beberapa ada yang memakai sendal jepit, beberapa bahkan tak beralas kaki. Ternyata itu lebih kepada kebiasaan mereka yang memang lebih suka telanjang kaki. Anak pantai. Lalu saya mulai berjalan keliling kelas. Sampai di barisan belakang ada dua anak yang terlihat malu jika tulisannya saya lihat. Mereka langsung menutup bukunya saat saya mendekat. Setelah saya bujuk, akhirnya mereka memperlihatkan bukunya yang kosong, hanya ada beberapa gambar tangan. Saat saya tanya kenapa mereka tidak mencatat, mereka hanya senyum-senyum malu dan teman-temanya bilang :”tara tau baca tulis dong pak guru!”, artinya kurang lebih dua anak kelas 6 ini belum bisa baca tulis. Awalnya saya pikir mereka bercanda. Saya pikir dua anak ini tipe anak-anak yang memang tidak hobi mencatat seperti saya waktu SD dulu. Ternyata setelah saya perhatikan dan saya tes, mereka memang belum bisa membaca dan menulis. Ya, mereka sudah kelas 6 SD dan belum bisa membaca dan menulis.

Entah karena saya guru baru di Pelita atau anak-anak ini memang sebetulnya anak-anak penuh semangat. Saya pulang hari kedua itu dengan perasaan tertantang. Tidak alasan sebetulnya bagi anak dimanapun dia berada untuk tidak terfasilitasi supaya berprestasi. Anak-anak kelas 6 ini harus bisa lulus UN dengan kemampuan mereka sendiri. Dua anak yang belum bisa baca tulis tadi pun demikian, mereka harus sudah bisa membaca sebelum sampai waktunya UN.
Hari Rabu dan selanjutnya sampai Sabtu barulah saya berpindah-pindah kelas. Saya menggantikan dua orang guru kelas 5 dan kelas 3 yang sedang ke Labuha untuk tes CPNS. Materi ajar yang saya berikan saya pilih dari KTSP dan buku-buku Sekolah Elektronik. Suatu kali di kelas 5 saya mengajarkan pelajaran Bahasa Indonesia tentang unsur cerita. Di akhir pelajaran saya berencana memberikan PR sebagai bahan latihan anak-anak di rumah atas apa yang saya ajarkan di kelas. Rencananya saya ingin menyuruh mereka mencari cerita tertulis dimanapun dan mengidentifikasi unsur-unsur ceritanya. “tong tara pe buku Pak Guru!”, ah saya lupa, mereke tidak punya buku paket. Jika di kota, mungkin saya akan langsung mencari mesin photocopy lalu memperbanyak cerita yang ada di buku saya. Tapi di Pelita tidak ada printer, apalagi mesin photocopy. Keterbatasan listrik membuat alat-alat seperti itu tidak masuk sampai sini. Akhirnya PR itu batal. Lain waktu saya harus merencanakan lebih matang PR untuk mereka. Di setiap kelas saya selalu menyisipkan pelajaran bernyanyi dan Bahasa Inggris yang tidak pernah ada sebelumnya. Secara umum minggu ini menyenangkan dan penuh dengan hal-hal menarik tentang SDN Ambatu Pelita.

Penutupan minggu pertama saya boleh dibilang yang paling seru. Saya mengajak anak-anak kelas 6 karya wisata –begitu namanya biasa disebut di kota- ke Pulau Ambatu, pulau kecil yang pernah saya ceritakan tempat nenek moyang Pelita pernah hidup. 24 anak yang didalamnya ada beberapa anak kelas 5 dan seorang anak SMP yang membantu saya mengemudikan ketinting agak besar untuk menyebrang ke Ambatu. Kali ini kami merapat di sisi belakang Ambatu, sisi yang tidak ada budi daya rumput lautnya. Pantainya agak panjang setinggi dada. Dibawahnya terumbu karang warna warni karena belum tercemar. Begitu sampai, saya dan anak-anak membuat beberapa peraturan yang harus kami jalankan bersama selama di Ambatu, peraturan yang bisa menjaga acara jalan-jalan ini tetap menyenangkan. Kami berenang di pantai, bermain perahu kecil tak bertuan yang ada disana, makan siang di pinggir pantai dan ngobrol santai sehabis makan di pantai. Kebetulan saya bawa gogle yang belum lama saya beli di Labuha dan takjub sama karang-karangnya. Di sela-sela karang itu banyak ikan-ikan kecil seperti yang ada di Film “Finding Nemo” bersembunyi sekeluarga. Pemandangan yang biasanya Cuma bisa saya lihat di TV, dulu.

Sebelum pulang ke Pelita, dari obrolan santai habis makan saya kembali menemukan fakta-fakta menarik tentang SDN Ambatu Pelita. Fakta-fakta menarik dan menantang. Anak-anak sepertinya sudah bisa bercerita lepas pada saya di akhir minggu pertama ini, sebuah progres yang bagus saya pikir. Lalu kami berangkat dari Ambatu sekitar pukul Tiga sore. Sepanjang jalan anak-anak bernyanyi, riang, dan basah. Mereka sudah lancar menyanyikan “red and white”. Ah, momen itu sedikit emosional buat saya. Anak-anak ini, mereka tidak pernah meminta kepada Tuhan terlahir sebagai orang pelosok. Begitupula saya dan semua “anak kota” lain, tidak pernah meminta hal serupa. Mereka tidak berbeda dalam hal kecerdasan. Mereka tidak berbeda dalam hal semangat. Mereka juga anak Indonesia. Mereka itu terbedakan oleh kita, oleh Negara. Terbedakan sebagai konsekwensi “kepelosokan” mereka. Harus ada yang mendekatkan mereka kepada kesamaan hak mereka sebagai warga Negara. Kalau tidak, sampai kapanpun Pancasila kita itu hanya akan jadi pajangan dinding penghias kelas yang gagah, namun berdebu, dan tanpa arti.

Desa Pelita, Indonesia.

mari benar-benar hidup

Friday, November 19, 2010

Racauan dari Rumah Saya, Indonesia!

Desa Pelita, 17 November 2010

Seperti yang sudah saya ceritakan di postingan sebelumnya, setahun kedepan ini saya akan tinggal dan mengajar di sebuah desa bernama Pelita yang terletak di kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara. Untuk mencapainya dari Jakarta, saya harus naik Pesawat selama 4,5 jam dari Soekarno-Hatta menuju Bandara Sultan Babullah, Ternate, lalu disambung 8 jam perjalanan laut dari Ternate ke Pelabuhan Babang di pulau Bacan menggunakan kapal umum. Setelah itu masih harus dilanjutkan perjalanan darat sekitar 30 menit menggunakan mobil ke Ibu kota kabupaten, Labuha. Perjalanan belum selesai. Dari Labuha, untuk mencapai Desa Pelita yang terletak di Pulau Mandioli Kecamatan Mandioli Utara, saya harus kembali menempuh perjalanan laut menggunakan longboat umum yang hanya ada hari senin dan kamis yang biasanya ditempuh dalam waktu 1,5 – 2 jam tergantung keadaan gelombang laut, barulah saya sampai di dermaga Desa Pelita. Pelita adalah sebuah Desa kecil di pesisir pulau Mandioli yang hanya bisa diakses melalui dermaganya saja. Tidak ada jalan darat yang menghubungkan Pelita dengan desa-desa lain di sekitarnya. Akses kemanapun dari Pelita harus menggunakan jalur laut. Sungguh unik dan baru bagi saya.

Mengingat Pelita akan jadi rumah saya yang baru, saya ingin menuliskan beberapa hal tentang pelita dan keluarga baru saya. Sebelum menulis tulisan ini, saya berusaha membuat poin-poin tentang apa saja yang ingin saya tuliskan. Tapi sepertinya terlalu banyak. Saya putuskan untuk mulai menulis saja. Kita lihat apa yang akan mengalir. Hehe 

Saya akan mulai dari keluarga baru saya, keluarga Bapak Rusdi Saleh. Saya tinggal di rumah Kepala sekolah SDN Ambatu Pelita –begitu nama sekolahnya- yang memiliki seorang isteri dan empat orang anak, tiga laki-laki dan satu perempuan. Anaknya yang paling besar tinggal dan kuliah di Ternate, yang kedua sedang menunggu test masuk Polisi Desember ini, Khairil namanya. Dia berusia 19 tahun, lebih tua sedikit dari adik saya. Yang ketiga, Haiba, masih sekolah SMP kelas 2 di Pelita dan yang paling kecil bernama Galang. Sejak hari pertama saya tinggal disini, Galang ini langsung nempel kemanapun saya pergi. Untuk anak berumur 3 tahun, Galang tergolong cerdas dan cepat belajar. Semua mainannya –tentunya mainan tradisional seperti sumpit bambu dan roda-roda- dia perbaiki sendiri. Sekali waktu saya perhatikan ayahnya sedang berusha memperbaiki sumpit bambunya yang macet. Setelah memperhatikan bagaimana teknik ayahnya memperbaiki, Galang langsung merebut sumpit yang belum selesai diperbaiki itu dan mulai memperbaikinya sendiri, sampai berhasil.

Keluarga ini hangat. Setiap malam kami makan bersama di ruang makan. Walaupun tanpa TV karena genset tidak cukup daya, makan malam kami selalu penuh dengan obrolan dan candaan khas orang Maluku. Ibu Rusdi, ibu angkat saya ini jago masak. Menu standar adalah ikan, karena memang inilah makanan orang pesisir. Tapi setiap hari selalu ikan yang berbeda dan dimasak dengan cara yang berbeda. Yang saya ingat dan paling unik adalah ikan di fufu, ini bahasa lokal untuk memanggang ikan. Di kota saya juga pernah makan ikan panggang, tapi siapa yang pernah setiap hari makan ikan segar yang baru dipancing hari itu juga?hehe. Makanan pokok disini ada empat macam, selain nasi, ada juga pisang rebus, singkong rebus atau biasa disebut orang sini kasbi, dan sagu. Saya sudah pernah mencoba makan ikan dengan semua makanan pokok tadi, semuanya enak kecuali sagu. Sebenarnya bukan rasanya yang tidak enak, tapi karena saya belum terbiasa jadinya kerongkongan saya selalu terasa kasar tiap kali habis makan sagu. Oh satu lagi, setiap waktu makan pasti tersedia sambal! Ini yang bikin saya sumringah dan selalu ingat sambal bikinan mama .

Hari minggu kemarin kami sekeluarga naik ketingting –istilah untuk perahu kecil selebar setengah meter yang digerakkan dengan motor kecil- ke pulau Ambatu di seberang Pelita. Sedikit sejarah, pulau Ambatu ini adalah asal Desa Pelita sebelum 1978. Lalu karena penduduk Pelita semakin banyak dan pulau Ambatu yang hanya berukuran dua kali lapangan sepak bola itu sudah terlalu padat, maka mereka hijrah ke Pulau Mandioli, tempat Pelita sekarang berada. Hari itu kami berangkat dari Pelita jam 9 pagi. Satu perahu itu muat untuk Pak Rusdi, istrinya, adik Pak Rusdi, Haiba, Galang dan saya. Di perjalanan melewati selat kecil antara dua pulau itu, ketingting kami melewati serombongan penyu besar yang sedang mengambil udara ke permukaan, pemandangan yang belum ppernah saya saksikan langsung. Penyu-penyu besar itu seketika menenggelamkan dirinya begitu saya mencoba menggapai tempurung mereka dari atas ketingting. Perjalanan 15 menit itu terasa seru karena selain pemandangan, ke-seru-an lain berasal dari ketingting yang sepertinya agak overload sehingga hampir tenggelam.

Di Ambatu ternyata Pak Rusdi dan adiknya mengembangkan budi daya rumput laut. Begitu sampai mereka langsung menyelam di pantai di sepanjang rumput laut yang mereka budidayakan. Sementara itu, Ibu Rusdi menyiapkan beberapa lembar daun pisang sebagai alas makan pengganti taplak meja di pinggir pantai, ya, dia sudah menyiapkan makan siang untuk kami semua. Haiba dan Galang asik bermain air dan saya asik mengamati pulau kosong itu. Terlihat bukan hanya Pak rusdi yang memanfaatkan pulau itu di Pelita. Banyak warga Pelita yang sering kesana untuk berkebun, memanen kelapa,mengambil pasir,dsb. Setelah sekitar 2 jam Pak Rusdi dan adiknya bermain rumput laut, kami semua berkumpul untuk makan siang, seperti orang sedang piknik. Setelah makan siang, saya keatas kayu-kayu yang condong ke laut yang saya pikir adalah bekas dermaga di ambatu yang sudah tidak berfungsi. Dari atas kayu-kayu itu saya bisa melihat dengan jelas ke bawah air yang bening. Yang saya lihat seperti layaknya akuarium yang penuh dengan karang dan ikan hias. Laut di kelpulauan Halmahera selatan memang airnya jernih. Dari jauh hanya terlihat warna hijau atau biru. Sebelum kembali ke Pelita, adik pak rusdi iseng-iseng bacigi ikan dan mendapat 4 ekor ikan sako besar-besar. Rencana pulang pun mundur karena ibu langsung dengan cekatan mengolah ikan-ikan itu jadi ikan bakar yang enak dan menjadi menu makan siang kedua kami.

Berikutnya saya ingin cerita tentang penduduk Desa Pelita. Setiap saya jalan-jalan di desa, orang-orang selalu menyapa dengan “pak Guru!” atau “ingku!”, dengan logat maluku tentunya, yang membuat orang baru atau yang tidak terbiasa dengan logat ini akan merasa sedang dimarahi. Kalau istilah anak-anak di Bandung, “manggilnya super ga nyantai!”,haha. Tapi sebetulnya orang sini sangat ramah terhadap pendatang terlebih dengan profesi guru. Setiap ada kesempatan, orang-orang selalu ingin bertanya tentang apapun tentang saya. Orang Pelita senang ngobrol. Kebanyakan penduduk Pelita keturunan Ternate sehingga bahasa sehari-harinya ada dua : bahasa pasar yang masih ada kata-kata bahasa Indonesianya dan bahasa Ternate yang berbeda sepenuhnya dengan bahasa Indonesia. Bahasa pasar sudah bisa saya pakai sedikit-sedikit dengan logat maluku karena cukup mudah dimengerti. Kata-kata yang huruf akhirnya ‘T’ tidak dibaca huruf akhirnya. Seperti: ka lau, ka dara, cepa dan saki. Yang artinya: ke laut, ke darat, cepat dan sakit. Lalu kata-kata yang berakhiran ‘N’ dibaca ujungnya dengan ‘NG’, seperti: makang ikang, hujang dan pulo Bacang. Yang artinya : makan ikan, hujan dan pulau Bacan. Seperti bahasa Batak, huruf ‘E’ pada sebagian besar kata juga dibaca sebagai ‘E’ keras. Karena saya memang senang belajar bahasa daerah, orang-orang bersemangat mengajari saya Bahasa ternate. By the end of this one year, i think i will be able to speak Ternates .

Desa Pelita topografinya landai sehingga aliran air bersih dan drainase bisa dialirkan secara gravitasi. Dari dermaga hanya ada satu jalan utama lurus menuju darat sekitar 150 meter, lalu ada cabang-cabang ke kiri dan kanan dari jalan utama itu. Disanalah rumah-rumah penduduk dibangun sejak 1978. Satu-satunya sumber sinyal hanya di dermaga, itupun kalau beruntung. Saya harus ke ujung dermaga bebentuk huruf ‘T’ untuk menemukan sinyal handphone. Setiap malam sehabis makan malam saya harus ke dermaga untuk sekedar menerima akumulasi sms seharian dan email (ini dia yang saya bilang kalau beruntung: sinyal GPRS). Karena pusat komunikasi Halsel Elite Squad ada di Labuha yaitu Ayu, maka saya harus membuat SOP ini supaya saya tetap bisa dihubungi atau menghubungi watchtower. Awalnya saya pikir akan sedikit menyeramkan berdiri sendirian di ujung dermaga yang menghadap ke laut malam-malam di desa yang tidak berlistrik. Pun ada yang punya genset di desa, dermaga pelita tetap tanpa penerangan malam. Tapi ternyata dermaga Pelita malam hari punya daya tariknya sendiri. Karena berada di wilayah kepulauan ditambah letaknya yang di teluk, air laut malam di bawah dermaga pelita sangat tenang tanpa gelombang. Bahkan seperti air di danau. Tidak ada bunyi gemericik air sedikit pun, yang ada hanya bunyi ikan-ikan yang sesekali melompat ke permukaan. Ada perbedaan bulan di kota besar dengan bulan di desa pelosok seperti Pelita ini. di kota mungkin kita Cuma tau ada bulan purnama, setengah dan sabit. Tapi di desa seperti Pelita, cahaya bulan di malam hari sangat terasa. Bahkan katanya, jika purnama tiba orang-orang akan duduk-duduk di dermaga sambil memancing ikan karena ikan-ikan pun bisa terlihat di bawah air saat purnama. Tapi kalau bulan belum purnama seperti sekarang, yang ada di dermaga malam hari cuma saya, mencari sinyal. Remang-remang cahaya bulan cukup untuk menerangi dermaga. Tidak perlu bawa senter atau poci ke dermaga. Oh satu lagi, langit penuh bintang jadi langganan dermaga Pelita malam hari. Bedanya dengan di kota, langit tanpa polusi membuat kelap-kelip bintang makin jelas, tidak sekedar kriyep-kriyep. Ditambah lagi, air laut yang tanpa riak bahkan sampai bisa memantulkan cahaya bintang-bintang. Sama sekali ngga ada serem-seremnya nongkrong di dermaga Pelita malam hari. Yang ada malah betah, hehe.

Pelita memang desa yang Indah. Sedikitpun seperti tidak punya masalah, at least yang terlihat secara fisik selain masalah kekurangan guru. Atau mungkin masalah akses bagi orang-orang yang takut laut seperti ibu saya. Lautnya indah, hutanya kaya, orang-orangnya ramah, keberterimaan tinggi dan bangunan fisik sekolah sudah ada. Tapi seperti juga desa-desa lain di bagian timur Republik ini, pembagian waktu WIB, WITA, dan WIT bagi orang-orang disini bukan sekedar pembagian waktu, tapi juga pagar tak tampak yang membatasi cita-cita anak-anak desa Pelita. Benar apa yang pernah dibilang Pak Anies, bagi saya mungkin Desa Pelita hanyalah 5 jam perjalanan udara sampai Ternate, ditambah 8 jam perjalanan laut sampai Babang, setengah jam perjalanan darat sampai Labuha dan 1,5 jam perjalanan laut sampai Dermaga Pelita. Tapi bagi anak-anak di Desa ini, untuk ke Jakarta bukan hanya soal waktu, untuk ke Jakarta yang menggambarkan pusat kemajuan mereka harus memanjat atau mendobrak dinding-dinding pembatas tak nyata itu. Dan dinding-dinding itu ternyata cukup untuk membuat mereka merasa jauh dari kemajuan dan pasrah dengan keadaanya. Cukuplah, toh ikan untuk makan sehari-hari pun sudah akan lompat dengan sendirinya ke dermaga tanpa dipancing. Ditambah kualitas pendidikan di “timur” ini memang jelas jauh dari di Jawa. Bagaimana tidak, dari jumlah guru saja jelas kurang. Belum lagi pelatihan-pelatihan untuk guru yang tidak segencar di Jawa. Lengkaplah sudah.

Tantangan besar saya disini adalah meyakinkan mereka kalau dinding itu tidak ada. Saya mau tidak mau harus bisa menjadi contoh seorang manusia maju yang bisa diterima di pelosok Republik seperti Pelita ini. Karena dengan begitu saya bisa lebih mudah meyakinkan anak-anak untuk bisa menggantungkan cita-cita mereka setinggi mungkin. Yang saya rasakan sekarang adalah ekspektasi yang sangat tinggi dari lingkungan. Baik dari semua orang yang mengetahui keberadaan saya disini sampai orang-orang Pelita yang menyangka saya bisa melakukan semua hal. Secara teknis, itu adalah tekanan bagi semua Pengajar Muda. Tapi saya –dan saya harap semua PM-, memilih menjadikan ini tantangan yang harus kami selesaikan. Saya memilih melihat ekspektasi-ekspektasi itu sebagai ekspektasi Ibu Pertiwi. Ekpektasi akan optimisme Republik ini di masa depan. And i will not give up on it! Jadi jika kemarin kalimat yang saya gunakan saat berpisah dengan teman-teman PM adalah “we will survive”, kalimat itu saya tarik karena yang lebih tepat adalah,”we will win this war!” InsyaAllah.

Cukuplah racauan saya. Banyak yang ingin saya tumpahkan sebenarnya ketika saya sampai disini dan melihat langsung keadaan disini. InsyaAllah saya akan menulis seminggu sekali untuk menceritakan perkembangan di Pelita. Tapi saya tidak bisa menjanjikan posting seminggu sekali mengingat Pelita belum jadi desa Internet. Jadi saya harus menunggu trip ke Labuha baru bisa posting.

Okelah guys, sekian dulu. Stay away from drugs dan patuhi nasihat orang tua :D
Salam hangat dari salah satu ujung Republik, warga DesaPelita, Timur Indonesia.

mari benar-benar hidup

Monday, November 15, 2010

Perjalanan Pengajar Muda Halsel Elite Squad!

Desa Pelita-Halmahera Selatan, 14 November 2010 (09.00 WIT)

Hari ini hari kedua saya di desa Pelita. Tidak butuh sebulan atau dua untuk saya tahu kalau saya akan betah disini. Hari ini saya akan ke pulau Ambatu di seberang pulau Mandioli untuk melihat budidaya rumput laut disana. Tapi pagi ini saya ingin menyempatkan menulis sedikit tentang perjalanan deployment dua hari yang lalu saat semua Pengajar Muda di Kab. Halmahera Selatan diantar sampai desa masing-masing.

12 November kemarin, hari Jumat, dari Labuha kami memulai perjalanan untuk mengantar seluruh tim Halmahera Selatan (HalSel). Kecuali Ayu dan Aisy yang ditempatkan di dua buah desa dekat dengan Labuha dan menggunakan jalan darat, kami berdelapan ditambah Pak Hikmat dan Mas Susilo Berangkat dari Pelabuhan Lama Labuha. Kami menggunakan speedboat sewaan berukuran sedang karena selain harus mengangkut kami bersepuluh juga harus mengangkut barang bawaan kami yang cukup banyak.

Tujuan pertama adalah desanya Dani, Desa Indomut. Diluar bayangan saya, anak2 ternyata sudah menunggu di dermaga desa. Anak-anak berserangam orlahraga SDN Indomut sudah melambai-lambaikan tangannya ke arah speedboat kami. Dari kejauhan Dani keihatan sangan bersemangat untuk sampai ke dermaga itu. Begitu sampai, bak perantau lama yang baru pulang, kami disambut dengan hangat, langsung menuju SD yang terletak di pinggir pantai. Pihak sekolah mengadakan acara penyambutan kecil-kecilan di ruangan dan rombongan pun bergerak untuk mengantar yang lain. Tapi ada satu hal yang menarik, bagitu kami sampai dan bersalam-salaman dengan guru-guru dan penduduk Indomut, ada seorang bapak, besar gelap brewok, sepertinya tidak kuasa menahan air matanya. Saya menangkap ekspektasi yang besar dari air mata dia. Jelas dia menangis karena terharu dan seolah baru mendapat suatu berkah. Mudah-mudahan Dani bisa berbuat banyak disana. Good luck!

Kira-kira 10 menit dari Indomut, speedboat kami sampai di Desa Belang-belang, cara membacanya menggunakan “e” kuat seperti orang batak. Bukan belang-belang seperti membaca warna Zebra. Beda dengan Indomut, kami tidak melihat ada keramaian di dermaga Belang-belang. Ternyata memang penyambutan mungkin belum diadakan hari itu. Kami langsung menuju rumah salah seorang penduduk tempat Hendra (Aheng) akan tinggal setahun ini yang lokasinya berada di belakang SDN Belang-Belang tempat Aheng akan mengajar. Keluarga tempat aheng tinggal sangat ramah. Kami dijamu sedikit disana. Dan setelah Pak Hikmat cuap-cuap sedikit menyerahkan Aheng ke warga Desa Belang-Belang, kami berangkat lagi mengantar yang lain. Break a leg Heng!

Berikutnya adalah Desa Bajo, tempatnya si Ajib (Sabda Aji). Desa ini terletak di Pulau Bajo dan ditempuh selama 15 menit dengan ¬speedboat yang kami gunakan. Desa ini tersusun dengan rumah-rumah penduduk memanjang di pesisir pantainya. Susunan rumah-rumahnya rapi dan tertata dengan baik. Dermaganya bisa saya katakan dermaga paling bagus diantara kami semua dilihat dari sisi ¬pemandangan dari dermaganya dan karang-karang yang bisa terlihat dengan jelas dari dermaganya paling beragam lengkap dengan ikan-ikan hiasnya. Oh, saya lupa menyebutkan bahwa memang air laut di Halsel rata-rata biru dan hijau, bening. Setelah serah terima kecil-kecilan di SDN Bajo, kami melanjutkan perjalanan ke desa berikutnya.

Sawangakar. Ini adalah desa tempat Junarih akan tinggal dan mengajar. Begitu sampai dermaga, kami langsung menuju rumah kepala sekolah yang juga akan menjadi tempat tinggal Jun. Rumahnya terletak di seberang SDN Sawangakar. Sekolah ini menghadap ke pantai dengan pemandangan laut dan pulau-pulau di seberangnya. Waktu kami sampai, anak-anak yang sudah tidak berseragam karena mungkin jam sekolah sudah selesai menyambut dan langsung membantu membawa barang-barang Jun. Di rumah kepala sekolah kami dijamu sedikit sambil Pak Hikmat kembali melakukan serah terima dengan penduduk desa Sawangakar. Sepanjang jamuan di rumah kepsek saya diluar bersama Bayu bermain dengan anak-anak mengajarkan beberapa nyanyian. Entah kenapa saya langsung teringat lirik lagu “Lihat Senyum Mereka” ciptaan BK yang juga merupakan lagu resmi Gerakan Indonesia Mengajar (klaim sepihak :p). Anak-anak ini begitu bersemangat! Tenyata ini binar mata itu, senyum kecil dan canda tawa yang berusaha kami tumpahkan beberapa minggu yang lalu dalam sebuah lagu. Wajah mereka seakan berbicara: “Ayo! Kami siap! Kalian punya apa untuk kami ketahui? ada apa diluar sana? Bagaimana diluar sana?” Di sawangakar, hari itu, saya melihatnya, merasakannya.

Hari itu saya marah, sama rasanya dengan waktu saya menemukan anak-anak di Balikpapan yang sebetulnya sangat cerdas, bersemangat, namun tidak ada yang bisa memancing mereka bermimpi. Tidak ada yang membuat mereka mengenal dunia sehingga mereka bisa bercita-cita. Bahkan sekolah mereka sekalipun. Tapi kami, Gerakan Indonesia Mengajar, telah bersepakat untuk berhenti memaki. Karena sebenarnya sayapun bingung dari dulu, siapa yang harus saya maki atas keadaan ini? So let’s just light the candle!

Perjalanan ke desa terakhir yang bisa saya ceritakan adalah ke Desa Pelita, desa tempat saya sendiri akan tinggal dan mengajar setahun ini. Kami merapat ke Dermaga Pelita sesaat sebelum Shalat Jumat dimulai. Kami langsung menuju masjid. Mungkin penyambutan saya lah yang paling “Islami” karena dilaksanakan di masjid selepas shalat Jumat. Hehe. Setelah itu saya langsung diantar menuju rumah kepala sekolah di seberang masjid tempat saya akan tinggal. Setelah Pak Hikmat melakukan tugasnya, saya mengantar Rahman Adi, Adhi Nugroho, Bayu, Mas Sus dan Pak Hikmat ke dermaga untuk melanjutkan perjalanan mengantar Adi ke Desa Indong yang berjarak sekitar 10 menit dari Pelita.

Cerita tentang Desa Bibinoi tempat Adhi Nugroho dan Bayu, Desa Papaloang tempat Ayu dan Desa Panamboang tempat Aisy tidak bisa saya sampaikan simply karena saya belum kesana dan tidak mengantarkan mereka. Mudah-mudahan di postingan yang lain bisa saya tuliskan. Cerita tentang desa Pelita lebih lengkap dan keluarga baru saya disini juga akan saya tulis di postingan yang lain.

Setahun ini akan menantang dan sangat menarik bagi seluruh Pengajar Muda. Setahun yang harus diiringi keikhlasan dan ketulusan untuk bisa menghasilkan sesuatu. Setahun yang akan sangat berarti bagi diri kami masing-masing.
May God bless us all.
May God bless Indonesia! Amin.

mari benar-benar hidup

Tuesday, November 2, 2010

sumpah pemuda?

“Kami putera dan puteri Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia.
Kami putera dan puteri Indonesia mengaku bertumpah darah satu, Tanah Air Indonesia.
Kami putera dan puteri Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.”

Klaim macam apa itu? Siapa yang berani-beraninya membuat sumpah seberat itu? Atau, lihat saja kata-katanya, jangan-jangan itu sumpah serapah hanya agar kita –pemuda pemudi- sekedar mengakui? Tidak lebih..

Ada pula yang lain lagi, beberapa kali kami diingatkan oleh Pak Anies Baswedan, “ini adalah upaya melunasi janji kemerdekaan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa”. Siapa yang berjanji? Bukan saya yang jelas! Bukan kalian atau pak Anis sekalipun! Itu janji Bung Karno, Hatta dan kawan-kawannya pada zaman itu. Sekarang mereka dimana? Kenapa kita yang harus terbebani oleh sumpah-sumpah dan janji-janji itu? Kenapa kita yang tidak diikutsertakan dalam pembahasan rencana pencetusan janji-janji dan sumpah-sumpah itu harus menanggung besarnya tanggungjawab atas kalimat-kalimat itu?

Haha, kalau begitu sekalian saja kita salahkan nabi Adam dan Hawa atas buah Khuldi yang dimakannya. Yang menjerumuskan kita semua ke karut marut kefanaan dunia ini. Jadi kita bisa berlindung dibalik kejadian itu atas dosa-dosa kita. Pada suatu titik dalam hidup saya, pernah terlintas pertanyaan-pertanyaan konyol seperti diatas. Tapi saya sadar ternyata kita hidup sekarang di zaman kita, zaman yang sudah lengkap dengan segala kompleksitasnya. Tidak ada kebebasan untuk kita sebelum terlahir dalam hal memilih zaman yang kita akan hidupi toh? At least menurut apa yang saya yakini. Jadi, mengeluhkan kompleksitas zaman yang kita hidupi sekarang hanyalah akan melemahkan kita. It will just wasting our time energy . Lagi pula, adakah yang salah dari ini janji-janji dan sumpah itu? Saya berani bilang tidak.. Tidak ada yang salah. Itu adalah janji dan sumpah para pemberani di zamannya yang dengan ketulusan hati serta harapan terhadap Indonesia yang akan hidup ribuan tahun lagi. Indonesia maju. Jika kita hidup di masa itu apakah kita tidak akan punya harapan yang sama?

Sebenarnya kita selalu punya pilihan untuk mengambil kalimat-kalimat itu sebagai janji dan sumpah kita juga, atau untuk tidak peduli. Tapi dua pilihan itu jelas punya konsekuensi berbeda. Jika kita melihat itu sebagai sumpah dan janji yang harus ikut kita penuhi juga, maka tanggungjawab kita besar, sangat besar. Yang harus kita pelajari selama hidup untuk bisa mempertanggung jawabkan itu pun sangat banyak. Energi yang perlu kita keluarkan untuk itu pun akan sangat besar. Masalahnya selalu tinggal pada diri kita. Beranikah kita memandang itu sebagai tanggung jawab kita juga? Beranikah kita menerima sumpah dan janji-janji itu selayaknya sumpah dan janji yang kita ucapkan?

Keberanian. Saya yakin satu kata ini yang akan jadi kuncinya. Seorang bijak pernah bilang bahwa republik inipun didirikan oleh para pemberani, orang-orang yang belum pernah punya pengalaman mendirikan republik sebelumnya. Dan sampai kapanpun saya yakin, republik ini butuh pemuda-pemuda pemberani untuk bisa terus maju dan berkembang.

Jadi sekarang mari kita tanya pada diri kita masing-masing, pemberanikah kita? memang, selalu ada pilihan untuk menjawab “saya tidak harus jadi pemberani”, atau “saya tidak mau jadi pemberani”. Tapi mari kita pikirkan sedikit. jika kita terlalu takut untuk menjadi seorang yang berani karena kita sadar apa konsekuensinya, dan kita memilih untuk menutup telinga, mata dan hati untuk menerima sumpah-sumpah dan janji-janji para pendahulu kita tentang republik ini sebagai hutang yang harus dibayar, lalu apa? Jika kita mati kelak, lalu apa? Lalu siapa yang akan melunasinya? Mau berharap pada siapa? Jika tidak bisa menemukan jawabannya, atau tidak cukup tega untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan “ya, yang lain saja”, maka, mari bersama kita pikul tanggungan itu. Mari terus kembangkan potensi diri kita setinggi mungkin karena tenggungan itu ternyata tidak ringan. Tapi jika kita bisa menjawab pertanyaan—pertanyaan itu dengan santai tanpa rasa gelisah, mungkin kita bisa pulang, menarik selimut tinggi-tinggi, lupakan semua masalah bangsa ini.

Tapi saya masih yakin, seperti tulisan pak Anies, para ibu di Nusantara masih melahirkan anak-anak pemberani republik ini. jadi pemberani itu tidak sulit. Saya pikir hanya butuh keberanian. Ya toh?

Selamat hari Sumpah Pemuda,
Semoga Tuhan menjaga hati-hati kita untuk selalu berani, Amin..

mari benar-benar hidup