Monday, November 15, 2010

Perjalanan Pengajar Muda Halsel Elite Squad!

Desa Pelita-Halmahera Selatan, 14 November 2010 (09.00 WIT)

Hari ini hari kedua saya di desa Pelita. Tidak butuh sebulan atau dua untuk saya tahu kalau saya akan betah disini. Hari ini saya akan ke pulau Ambatu di seberang pulau Mandioli untuk melihat budidaya rumput laut disana. Tapi pagi ini saya ingin menyempatkan menulis sedikit tentang perjalanan deployment dua hari yang lalu saat semua Pengajar Muda di Kab. Halmahera Selatan diantar sampai desa masing-masing.

12 November kemarin, hari Jumat, dari Labuha kami memulai perjalanan untuk mengantar seluruh tim Halmahera Selatan (HalSel). Kecuali Ayu dan Aisy yang ditempatkan di dua buah desa dekat dengan Labuha dan menggunakan jalan darat, kami berdelapan ditambah Pak Hikmat dan Mas Susilo Berangkat dari Pelabuhan Lama Labuha. Kami menggunakan speedboat sewaan berukuran sedang karena selain harus mengangkut kami bersepuluh juga harus mengangkut barang bawaan kami yang cukup banyak.

Tujuan pertama adalah desanya Dani, Desa Indomut. Diluar bayangan saya, anak2 ternyata sudah menunggu di dermaga desa. Anak-anak berserangam orlahraga SDN Indomut sudah melambai-lambaikan tangannya ke arah speedboat kami. Dari kejauhan Dani keihatan sangan bersemangat untuk sampai ke dermaga itu. Begitu sampai, bak perantau lama yang baru pulang, kami disambut dengan hangat, langsung menuju SD yang terletak di pinggir pantai. Pihak sekolah mengadakan acara penyambutan kecil-kecilan di ruangan dan rombongan pun bergerak untuk mengantar yang lain. Tapi ada satu hal yang menarik, bagitu kami sampai dan bersalam-salaman dengan guru-guru dan penduduk Indomut, ada seorang bapak, besar gelap brewok, sepertinya tidak kuasa menahan air matanya. Saya menangkap ekspektasi yang besar dari air mata dia. Jelas dia menangis karena terharu dan seolah baru mendapat suatu berkah. Mudah-mudahan Dani bisa berbuat banyak disana. Good luck!

Kira-kira 10 menit dari Indomut, speedboat kami sampai di Desa Belang-belang, cara membacanya menggunakan “e” kuat seperti orang batak. Bukan belang-belang seperti membaca warna Zebra. Beda dengan Indomut, kami tidak melihat ada keramaian di dermaga Belang-belang. Ternyata memang penyambutan mungkin belum diadakan hari itu. Kami langsung menuju rumah salah seorang penduduk tempat Hendra (Aheng) akan tinggal setahun ini yang lokasinya berada di belakang SDN Belang-Belang tempat Aheng akan mengajar. Keluarga tempat aheng tinggal sangat ramah. Kami dijamu sedikit disana. Dan setelah Pak Hikmat cuap-cuap sedikit menyerahkan Aheng ke warga Desa Belang-Belang, kami berangkat lagi mengantar yang lain. Break a leg Heng!

Berikutnya adalah Desa Bajo, tempatnya si Ajib (Sabda Aji). Desa ini terletak di Pulau Bajo dan ditempuh selama 15 menit dengan ¬speedboat yang kami gunakan. Desa ini tersusun dengan rumah-rumah penduduk memanjang di pesisir pantainya. Susunan rumah-rumahnya rapi dan tertata dengan baik. Dermaganya bisa saya katakan dermaga paling bagus diantara kami semua dilihat dari sisi ¬pemandangan dari dermaganya dan karang-karang yang bisa terlihat dengan jelas dari dermaganya paling beragam lengkap dengan ikan-ikan hiasnya. Oh, saya lupa menyebutkan bahwa memang air laut di Halsel rata-rata biru dan hijau, bening. Setelah serah terima kecil-kecilan di SDN Bajo, kami melanjutkan perjalanan ke desa berikutnya.

Sawangakar. Ini adalah desa tempat Junarih akan tinggal dan mengajar. Begitu sampai dermaga, kami langsung menuju rumah kepala sekolah yang juga akan menjadi tempat tinggal Jun. Rumahnya terletak di seberang SDN Sawangakar. Sekolah ini menghadap ke pantai dengan pemandangan laut dan pulau-pulau di seberangnya. Waktu kami sampai, anak-anak yang sudah tidak berseragam karena mungkin jam sekolah sudah selesai menyambut dan langsung membantu membawa barang-barang Jun. Di rumah kepala sekolah kami dijamu sedikit sambil Pak Hikmat kembali melakukan serah terima dengan penduduk desa Sawangakar. Sepanjang jamuan di rumah kepsek saya diluar bersama Bayu bermain dengan anak-anak mengajarkan beberapa nyanyian. Entah kenapa saya langsung teringat lirik lagu “Lihat Senyum Mereka” ciptaan BK yang juga merupakan lagu resmi Gerakan Indonesia Mengajar (klaim sepihak :p). Anak-anak ini begitu bersemangat! Tenyata ini binar mata itu, senyum kecil dan canda tawa yang berusaha kami tumpahkan beberapa minggu yang lalu dalam sebuah lagu. Wajah mereka seakan berbicara: “Ayo! Kami siap! Kalian punya apa untuk kami ketahui? ada apa diluar sana? Bagaimana diluar sana?” Di sawangakar, hari itu, saya melihatnya, merasakannya.

Hari itu saya marah, sama rasanya dengan waktu saya menemukan anak-anak di Balikpapan yang sebetulnya sangat cerdas, bersemangat, namun tidak ada yang bisa memancing mereka bermimpi. Tidak ada yang membuat mereka mengenal dunia sehingga mereka bisa bercita-cita. Bahkan sekolah mereka sekalipun. Tapi kami, Gerakan Indonesia Mengajar, telah bersepakat untuk berhenti memaki. Karena sebenarnya sayapun bingung dari dulu, siapa yang harus saya maki atas keadaan ini? So let’s just light the candle!

Perjalanan ke desa terakhir yang bisa saya ceritakan adalah ke Desa Pelita, desa tempat saya sendiri akan tinggal dan mengajar setahun ini. Kami merapat ke Dermaga Pelita sesaat sebelum Shalat Jumat dimulai. Kami langsung menuju masjid. Mungkin penyambutan saya lah yang paling “Islami” karena dilaksanakan di masjid selepas shalat Jumat. Hehe. Setelah itu saya langsung diantar menuju rumah kepala sekolah di seberang masjid tempat saya akan tinggal. Setelah Pak Hikmat melakukan tugasnya, saya mengantar Rahman Adi, Adhi Nugroho, Bayu, Mas Sus dan Pak Hikmat ke dermaga untuk melanjutkan perjalanan mengantar Adi ke Desa Indong yang berjarak sekitar 10 menit dari Pelita.

Cerita tentang Desa Bibinoi tempat Adhi Nugroho dan Bayu, Desa Papaloang tempat Ayu dan Desa Panamboang tempat Aisy tidak bisa saya sampaikan simply karena saya belum kesana dan tidak mengantarkan mereka. Mudah-mudahan di postingan yang lain bisa saya tuliskan. Cerita tentang desa Pelita lebih lengkap dan keluarga baru saya disini juga akan saya tulis di postingan yang lain.

Setahun ini akan menantang dan sangat menarik bagi seluruh Pengajar Muda. Setahun yang harus diiringi keikhlasan dan ketulusan untuk bisa menghasilkan sesuatu. Setahun yang akan sangat berarti bagi diri kami masing-masing.
May God bless us all.
May God bless Indonesia! Amin.

mari benar-benar hidup

Tuesday, November 2, 2010

sumpah pemuda?

“Kami putera dan puteri Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia.
Kami putera dan puteri Indonesia mengaku bertumpah darah satu, Tanah Air Indonesia.
Kami putera dan puteri Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.”

Klaim macam apa itu? Siapa yang berani-beraninya membuat sumpah seberat itu? Atau, lihat saja kata-katanya, jangan-jangan itu sumpah serapah hanya agar kita –pemuda pemudi- sekedar mengakui? Tidak lebih..

Ada pula yang lain lagi, beberapa kali kami diingatkan oleh Pak Anies Baswedan, “ini adalah upaya melunasi janji kemerdekaan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa”. Siapa yang berjanji? Bukan saya yang jelas! Bukan kalian atau pak Anis sekalipun! Itu janji Bung Karno, Hatta dan kawan-kawannya pada zaman itu. Sekarang mereka dimana? Kenapa kita yang harus terbebani oleh sumpah-sumpah dan janji-janji itu? Kenapa kita yang tidak diikutsertakan dalam pembahasan rencana pencetusan janji-janji dan sumpah-sumpah itu harus menanggung besarnya tanggungjawab atas kalimat-kalimat itu?

Haha, kalau begitu sekalian saja kita salahkan nabi Adam dan Hawa atas buah Khuldi yang dimakannya. Yang menjerumuskan kita semua ke karut marut kefanaan dunia ini. Jadi kita bisa berlindung dibalik kejadian itu atas dosa-dosa kita. Pada suatu titik dalam hidup saya, pernah terlintas pertanyaan-pertanyaan konyol seperti diatas. Tapi saya sadar ternyata kita hidup sekarang di zaman kita, zaman yang sudah lengkap dengan segala kompleksitasnya. Tidak ada kebebasan untuk kita sebelum terlahir dalam hal memilih zaman yang kita akan hidupi toh? At least menurut apa yang saya yakini. Jadi, mengeluhkan kompleksitas zaman yang kita hidupi sekarang hanyalah akan melemahkan kita. It will just wasting our time energy . Lagi pula, adakah yang salah dari ini janji-janji dan sumpah itu? Saya berani bilang tidak.. Tidak ada yang salah. Itu adalah janji dan sumpah para pemberani di zamannya yang dengan ketulusan hati serta harapan terhadap Indonesia yang akan hidup ribuan tahun lagi. Indonesia maju. Jika kita hidup di masa itu apakah kita tidak akan punya harapan yang sama?

Sebenarnya kita selalu punya pilihan untuk mengambil kalimat-kalimat itu sebagai janji dan sumpah kita juga, atau untuk tidak peduli. Tapi dua pilihan itu jelas punya konsekuensi berbeda. Jika kita melihat itu sebagai sumpah dan janji yang harus ikut kita penuhi juga, maka tanggungjawab kita besar, sangat besar. Yang harus kita pelajari selama hidup untuk bisa mempertanggung jawabkan itu pun sangat banyak. Energi yang perlu kita keluarkan untuk itu pun akan sangat besar. Masalahnya selalu tinggal pada diri kita. Beranikah kita memandang itu sebagai tanggung jawab kita juga? Beranikah kita menerima sumpah dan janji-janji itu selayaknya sumpah dan janji yang kita ucapkan?

Keberanian. Saya yakin satu kata ini yang akan jadi kuncinya. Seorang bijak pernah bilang bahwa republik inipun didirikan oleh para pemberani, orang-orang yang belum pernah punya pengalaman mendirikan republik sebelumnya. Dan sampai kapanpun saya yakin, republik ini butuh pemuda-pemuda pemberani untuk bisa terus maju dan berkembang.

Jadi sekarang mari kita tanya pada diri kita masing-masing, pemberanikah kita? memang, selalu ada pilihan untuk menjawab “saya tidak harus jadi pemberani”, atau “saya tidak mau jadi pemberani”. Tapi mari kita pikirkan sedikit. jika kita terlalu takut untuk menjadi seorang yang berani karena kita sadar apa konsekuensinya, dan kita memilih untuk menutup telinga, mata dan hati untuk menerima sumpah-sumpah dan janji-janji para pendahulu kita tentang republik ini sebagai hutang yang harus dibayar, lalu apa? Jika kita mati kelak, lalu apa? Lalu siapa yang akan melunasinya? Mau berharap pada siapa? Jika tidak bisa menemukan jawabannya, atau tidak cukup tega untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan “ya, yang lain saja”, maka, mari bersama kita pikul tanggungan itu. Mari terus kembangkan potensi diri kita setinggi mungkin karena tenggungan itu ternyata tidak ringan. Tapi jika kita bisa menjawab pertanyaan—pertanyaan itu dengan santai tanpa rasa gelisah, mungkin kita bisa pulang, menarik selimut tinggi-tinggi, lupakan semua masalah bangsa ini.

Tapi saya masih yakin, seperti tulisan pak Anies, para ibu di Nusantara masih melahirkan anak-anak pemberani republik ini. jadi pemberani itu tidak sulit. Saya pikir hanya butuh keberanian. Ya toh?

Selamat hari Sumpah Pemuda,
Semoga Tuhan menjaga hati-hati kita untuk selalu berani, Amin..

mari benar-benar hidup

Monday, October 25, 2010

Minggu ke-5

Cikareteg, Ciawi

25 Oktober 2010, 12.55 AM

Malam ini -atau pagi ini tepatnya- instead of menulis panjang mendalami format jurnal mingguan Pengajar Muda, saya lebih tertarik menceritakan isi kepala dan hati saya sampai minggu ke-5 training. Karna banyak hal telah terjadi, teramati dan dijalani membuat saya merasakan berbagai perasaan. Jadi mari kita mulai saja “jurnal” elektronik ini.

Minggu ke-5 training Pengajar Muda. Makin lama, setiap harinya, matahari sepertinya sangat cepat berjalan. Bahkan kadang-kadang seperti melewati beberapa hari sekaligus. Contohnya ya minggu ke-5 ini. Perasaan saya, bahkan belum lama kami -PM- liburan ke Bandung yang berarti adalah liburan minggu ke-3, tapi ya itu, kenyataanya kami sekarang sudah ada di mulut minggu ke-6 lagi. Tepat 16 hari sebelum pemberangkatan. Tapi bagi saya, ini indikator bahwa saya senang dan menikmati setiap aktivitas di training ini.

Saya ingin cerita tentang kami, Pengajar Muda. Awal mula training, mengenal 51 orang baru yang katanya hebat-hebat cukup membuat orang yang punya penyakit songong dan tengil kaya saya penasaran,”kira-kira pada punya kehebatan apa ya temen-temen baru saya ini?” Dan mulai lah training camp pengajar muda ini. Minggu pertama pun lewat. Rangkaian program training yang saya alami minggu pertama membuat saya yang -sekali lagi- punya penyakit suka bikin standar sok tinggi ini berkerut dahi berpikir keras, “hmm..,apa iya nih bener orang-orangnya yang ini?” Saya kurung rapat pikiran itu di kepala saya. Karna saya tau, saya yang sakit. Sinting!

Hal-hal ajaib mulai bermunculan di minggu kedua. Mungkin saya ngga akan sebut satu-satu karna bisa jadi terlalu personal. Tapi yang jelas saya membatin, “sotoy sih lo dika! Makanya jangan songong!” Orang-orang disini ternyata ajaib-ajaib. Haha, memang semenjak minggu ke-4 beberapa program menuntut kami untuk berperan layaknya tingkah polah anak SD. Alhasil kami melepaskan semua sisi kekanak-kanakkan kami, tanpa sedikitpun ditahan sepertinya. Menurut saya, hal itu berdampak pada hal-hal kecil yang mungkin tidak disadari. Belakangan terlihat agak berlebihan. Mengeluh, merajuk, dan susah bersemangat pada sesi-sesi yang kami rasa kami kurang suka.

Sampai saat sesi training dimana kami beberapa kali harus menyambut kedatangan anak-anak lincah dan bersemangat dari SD Pancawati setiap Jumat sore dan Sabtu sore di base camp kami. Tiap kali hari jumat, sesi itu seperti jadi momok. Karena kami merasa lebih baik sesi itu diganti saja dengan sesi tidur sore atau sesi bikin RPP atau sesi ngopi-ngopi. Sepertinya akan lebih menyenangkan. Tapi tiap kali sesi tersebut dimulai, yang saya lihat hanya sumringah gigi para PM. Loncat-loncat, teriak-teriak, nyanyi-nyanyi. Kegembiraan adalah satu-satunya aura yang saya rasakan di basecamp. Mungkin orang bisa bilang saya berlebihan. Karna pasti toh ada saja salah satu atau dua atau tiga dari kami yang memang benar-benar sedang sedih atau galau. Tapi sama seperti virus, kegembiraan itu menular. Dan itu lah yang terjadi di basecamp tiap sesi “anak lincah dan bersemangat”, at least yang saya yakini.

Sesi “anak lincah dan bersemangat” yang saya ceritakan tadi terjadi enam kali, tiga minggu berturut-turut, dan berakhir tepat hari Sabtu di akhir minggu ke-5 kemarin. Acara penutupan yang menghadirkan anak-anak lincah bersemangat mulai dari kelas 1-6 SD yang tidak kurang jumlahnya dari 200. Walaupun waktu terasa makin cepat berlalu, tapi saya tidak mengatakan beban kami makin ringan. Minggu ke-5 adalah minggu yang berat dan padat tugas. Jadi, menyambut anak-anak lincah bersemangat itu memerlukan ekstra semangat. And we did it! Sesi terakhir “anak lincah dan bersemangat” ditutup dengan baik dan sedikit emosional bagi beberapa dari kami. Saat-saat seperti itu bagi saya adalah saat-saat si songong dan si tengil dalam diri saya terdiam tanpa argumen songong dan tengilnya. 50 teman saya ini punya “sesuatu” yang saya yakin memang tidak semua orang bisa punya. Orang normal dalam keadaan terbebani RPP, praktek mengajar, masalah-masalah pribadi, dsb, saya rasa tidak sanggup jika harus dipaksa menangani 200 lebih “anak lincah bersemangat” yang tingkahnya bisa aneh-aneh dan ajaib. Tapi saya tahu teman2 saya ini, bukan, maksud saya sahabat-sahabat saya ini punya cinta yang sangat besar di dalam hati mereka masing-masing. Yang otomatis akan menyeruak tiap kali mereka “bertempur”. Yang akan mengalahkan segala penat,lelah atau apapun yang bisa mengganggu pertempuran mereka. Sahabat-sahabat baru saya ini adalah manusia-manusia yang hatinya tidak cuma terletak di bawah jantungnya, tapi di tiap milimeter tubuhnya.

Sepanjang saya hidup, baru kali ini saya menyayangi orang sebanyak ini dalam waktu lima minggu. 50 orang luar biasa yang bersama-sama dengan sadar mempersiapkan diri. Walaupun saya terkadang -atau lebih tepatnya agak sering- bikin kesal mereka dengan ocehan-ocehan tengil, kejahilan-kejahilan saya yang sulit sekali saya bendung, i love every single person of them, i really do. Di titik ini, rasanya saya tidak rela kalau sampai saya kehilangan salah satu pun dari mereka. Mereka semua terlalu berharga.

Mudah-mudahan Tuhan akan selalu menjaga hati-hati kami. Memberikan kekuatan-Nya supaya kami tidak akan pernah dikalahkan oleh diri kami sendiri. Karna saya sadar, lawan terbesar kami sekarang adalah diri kami sendiri. Setinggi apapun kami gantungkan cita-cita kami untuk kemajuan Negeri ini, selalu, lawan terbesar adalah diri kami sendiri. Mudah-mudahan, Tuhan juga memberi kami keberanian-Nya supaya kami bernyali untuk menyadari dan menerima tanggungjawab kami. Amin.


Catatan tambahan untuk melengkapi format jurnal minggu ke-5:

Senin : Sesi rafting dan paintball Citarik, nampol lah serunya. Kurang lama..:D
Selasa : Sesi faskab dan adaptasi budaya, kitorang jadi banyak belajar logat logat Maluku Utara toh!
Rabu : Syukuran IM. Alhamdulillah.. cukup jadi cambuk buat setaun ke depan. Saya harus bikin “sesuatu” di halmahera selatan!
Kamis : harus School visit tapi air pagi-pagi mati. Ga mandi pagi dan langsung tancap ke sekolahan. Hehe..
Jumat : PMR. Oke, banyak hal-hal baru saya dapet. Pematerinya mungkin bisa diusulkan ikutan Indonesia Mencari Bakat :D
Sabtu : pentutupan sesi “anak lincah dan bersemangat” di basecamp PM. Review mingguan oleh pak Hikmat bikin makin sadar kalo bentar lagi deployment!!hore!


mari benar-benar hidup

Tuesday, October 5, 2010

Training Camp Pengajar Muda (PM)

Modern Training Camp, Desa Cikareteg, Ciawi. (10.20 PM)

Udah masuk minggu ke-3 training camp Pengajar Muda Indonesia Mengajar. makin kesini waktu makin cepet rasanya. Dalam minggu ke-3 ini PM (Pengajar Muda) udah bakal dikelompokin berdasarkan daerah penempatan 5 Kabupaten sasaran program. Sejak awal training sampe hari ini kita masih dikelompokin jadi 10 kelompok yang diacak dari awal. Mulai minggu ke-4, training akan makin fokus kepada kebutuhan kita sesuai daerah tujuan masing2. Jadi menu tiap kelompok baru itu bisa beda2.

Karantina 7 minggu dan selanjutnya ditempatkan ke pelosok emang pengalaman baru buat gw. So far, i'm happy being here. Berada di sekeliling orang2 yang punya mimpi sama dengan kita adalah anugerah. Energi gw serasa berlipat disini. benar2 terkondisikan buat mempersiapkan diri sebaik2nya sebelum deployment tanggal 10 November 2010 besok.
Udah banyak banget hal baru yang PM dapet selama karantina ini. tapi gw yakin masih jauh lebih banyak hal2 yang belum kita tau. Minggu pertama trainingcamp PM "main" 3 hari di RINDAM JAYA latihan mental dan fisik sama TNI, seru! Trus kembali ke Ciawi, dapet banyak materi dari orang2 hebat dengan metode2 yang beda dari metode2 biasanya. Semua PM ga ada yang background S1 nya dari pendidikan. Jadi emang kita semua ngerasa dapet banyak banget hal baru berkaitan dengan operasional pendidikan, terutama daerah terpencil. kmaren kita juga udah sempet penjajakan ke SD2 di sekitar trainingcamp buat observasi dan persiapan praktek latihan ngajar. Kamis besok PM bakal kunjungan ke sekolah alam Cikeas buat ngeliat praktek dari penerapan kurikulum KTSP yang beda dari kebanyakan sekolah negeri di Indonesia buat tambahan referensi kita dalam penerapan KTSP nanti di daerah.

PM angkatan satu ini berjumlah 52 orang, tepat 26 pasang. kita dateng dari berbagai daerah dan lulusan dari berbagai macam kampus. Gw selalu seneng bisa kenal sama orang2 baru kaya gini. Apalagi kita semua emang punya satu tujuan bareng sekarang. PM adalah keluarga sekaligus tim buat gw sekarang. kita bakal saling bahu membahu, menjaga, dan berjuang bareng seterusnya. Mudah2an kami semua selalu dikaruniai kesehatan supaya bisa jalanin sisa training dan program dengan oke. amiin..

Seperti kata Pak Anies, mudah2an pengiriman PM bisa ngebawa impact besar. Mudah2an apa yang kami lakukan bener2 bisa jadi manfaat.
taun lalu mungkin kami semua, PM, ga ada yang tau atau bahkan membayangkan bisa bareng sekarang disini. Tapi sekarang kenyataannya kami bareng2 belajar disini untuk mempersiapkan diri setaun berada di daerah terpencil. Temen2 baru gw ini adalah orang2 yang punya motivasi besar untuk berbuat sesuatu untuk Indonesia. gw bangga jadi bagian dari mereka. Mudah2an Tuhan selalu ngelindungin kami semua, ngasih kekuatan untuk kami semua dan menjaga hati kami semua.

Kita memang ga akan pernah tau apa yang akan kita alami setaun ke depan, sehari ke depan atau bahkan semeneit ke depan.
Tapi kita selalu punya pilihan untuk melakukan sesuatu yang baik.
Kita selalu akan punya pilihan.
May God bless us all..

mari benar-benar hidup

Monday, October 4, 2010

kami tidak takut !!

Sepuluh tahun yang lalu, jika kami diancam teman untuk memberi jawaban saat ujian, mungkin kami takut..
Lima tahun yang lalu, jika Televisi mempertontonkan berbagai kengerian di negeri ini, mungkin kami takut..
Satu tahun yang lalu, jika globalisasi membusung dada dan memalingkan muka dari anak Indonesia yang tidak mencicipi pendidikan, mungkin kami takut...

Tapi hari ini, jika memang akan selalu ada orang-orang yang ingin melihat negeri kami terpuruk, bangsa kami tertinggal, dan dengan segala cara berusaha mewujudkannya, maka kami tidak takut!!
Bahkan jika kilau materi menggoda dan sang tahta pongah membantah, dan hanya tersisa kami, kami tidak takut!
Kami harus temukan cara!
Kami akan temukan cara!
Kami memilih menutup pilihan untuk takut!
KAMI TIDAK TAKUT!!


mari benar-benar hidup

Thursday, September 9, 2010

Sequel 2004

kemaren baru abis buka bersama TL ITB 2004. Ya, sesuai judulnya, nama lain angkatan kami emang SEQUEL yang artinya lebih baik tidak saya sebut..hahaha..
tetep bisa ketawa2 walaupun dari 107 orang yang tergabung di angkatan, yang dateng buber cuma 40an. yang lain ada yang izin gabisa dateng karna ngurus bayi nya, ngejaga kehamilannya yang udah gede, di luar kota, luar negeri, dan sebagainya..

Semoga masing2 kita dimanapun berada selalu dilindungi Allah ya guys..amin..
see u all on top..:)

mari benar-benar hidup

Alhamdulillah

Bandung, 090910
Selalu ada alasan untuk kita selalu bersyukur. Bersyukur gw yakini bisa bikin kita selalu jadi orang yang optimis dan punya energy untuk selalu berbuat. Emang sih, manusia juga lengkap dengan kelemahan soal fluktuasi iman. Untuk itu kita wajib saling mengingakan bukan? Malem ini malem terakhir Ramadhan taun ini. Ga kerasa lusa udah lebaran lagi aja. Mudah2an pahala selama Ramadhan ini diterima Allah, amin..

Ngomongin soal bersyukur, ada beberapa hal yang pengen gw share sebagai hal yang gw sukuri sekarang ini:

1. Alhamdulillah akhirnya gw resmi jadi salah satu dari 52 orang pengajar muda dalam program Indonesia Mengajar. Sejak awal liat berita rekrutmentnya di milis ITB 2004, gw langsung tertarik dan pengen banget gabung. Setelah lewat 3 tahap proses seleksi, akhirnya dapet juga, Alhamdulillah. Mulai 19 Sept bakal mulai training di Bogor sampe 8 November, langsung lanjut mulai 10 November sampe setaun berikutnya gw bakal langsung ditempatin di salahsatu daerah target program ini. pengennya sih ke Halmahera selatan atau Sulawesi Barat, mudah2an aja bisa disana. Lewat program ini, somehow, gw makin bisa membayangkan step2 yang harus gw jalanin buat ngejar cita2 gw. Mudah2an lancar dan seru perjalanannya..hehe..amin!

2. Alhamdulillah kemaren dikasih kesempatan buat ngumpul sama temen2 TL ITB 2004 di acara buka bersama di Jakarta. Udah lama ga kumpul2 sereme kemaren. Anak udah ada yang berkeluarga, punya anak, ngurus anak, nunggu kelahiran anak, kerja di luar negeri, sekolah di luar negeri, kerja di ibu kota, luar pulau, dan sebagainya. Bukan basa basi kalo gw bilang waktu memang ngebut. Soalnya memori2 ospek, kuliah bareng, main bareng pas mahasiswa masih seger banget di kepala. Dan sekarang semua udah di jalan masing2 yang mudah2an untuk tujuan mulia yang sama, amin. insyaAllah, tiap taun bakal diadain terus buka bersama angkatan. Semoga persaudaraan dan kehangatan kita abadi dan membawa manfaat bagi sekitar kita. Go Fight SEQUEL 2004!! See u all on top!

3. Alhamdulillah lebaran ini insyaAllah bisa pulang ke kampong halaman orang tua di bukittinggi. Walaupun dapet tiket pas hari H lebaran, yah tapi ambil hikmahnya aja kalo jalan mudik pasti ga macet hehe..:D Taun lalu gw sama adek gw ga mudik, jadi kita lebaran bareng sodara aja di Depok. Abang gw lagi2 belum bisa ikutan lebaran bareng kita sekeluarga karna dia masi di Swedia menuntut ilmu (asik..haha). mudah2an dia ga kesepian lah lebaran disana.

4. Alhamdulillah gw masih punya keluarga yang seru walaupun laki2 semua, kecuali mama, cantik sendiri,hehe.. anak2 mama sekarang udah pada gede2 dan jauh dari rumah. Gw bersyukur ditakdirkan jadi bagian keluarga ini yang udah ngasih lingkungan hangat dan kondusif buat belajar apapun dari kecil. Gw bersyukur punya papa mama yang pinter2 dan hebat2. Juga bersyukur punya temen berantem dari kecil karna ga beda jauh umurnya..hehe (pis bang ah :D)

5. Alhamdulillah gw punya banyak temen2 yang hebat2 dan selalu bisa jadi inspirasi hidup buat gw. Sekali lagi, gw bersyukur atas lingkungan yang mereka ciptakan. Semoga dimanapun mereka berada Tuhan selalu melindungi mereka, amin..

6. Alhamdulillah gw masih dikasih kehidupan. Mudah2an juga selalu diberi kekuatan oleh Allah buat ngejalanin hidup dengan bener. Amin..
Itulah enam dari tak terhitung rasa syukur yang gw pengen ungkapkan. Mudah2an bisa selalu jadi pengingat gw juga untuk selalu optimis dan ga menyerah ngejalanin apapun tantangan hidup.

Trus juga pengen share beberapa pelajaran yang terangkat dari perjalanan gw belakangan ini:

“Cita2 itu sebesar mungkin..supaya hidup kita serunya ga abis2..selalu ada yang harus dikejar”
“terus.., kejar cita2 itu sekarang! Jangan nunggu mati..ntar nyesel..!”
“kalo pernah terlintas di kepala kalo kita udah berbuat banyak, coba pikir sekali lagi..!apa yang udah kita ubah dan perbaiki dari bangsa ini?”

Terakhir buat postingan ini, gw mau Mohon maaf lahir bathin atas segala kesalahan baik yang sengaja ato ngga yang pernah gw lakukan. Selamat lebaran semuanya..semoga masih ada umur buat ketemu Ramadhan taun depan, Amin..
Mudiik mudiiikkk..!!!:D

mari benar-benar hidup...