Wednesday, June 15, 2011

HostFam, Keluarga Rusdi Salim

Post ini adalah cerita tentang pengalaman saya bersama keluarga angkat saya di Pelita, keluarga Rusdi Salim. Sepertinya saya belum menceritakan tentang keluarga ini selain pengenalan anggotanya di beberapa post sebelum ini. Lagipula mungkin kemarin-kemarin saya belum punya banyak yang diceritakan tentang keluarga ini.
Saya akan mulai dari pak Rusdi, kepala keluarga, yang kebetulan juga kepala sekolah SD. Pak Rusdi ini badannya besar, mukanya sangar, dan berambut cepak. Cocok lah untuk pemeran penculik atau bodyguard di film-film. Tapi biarpun berperawakan seperti itu, dia sangat dekat dengan anak-anak, terlebih sebagai seorang kepala sekolah. Di Pelita, pak Rusdi termasuk salah satu pemuka desa yang disegani masyarakat desa. Sehari-hari, sepulang sekolah biasanya pak Rusdi pergi mengurus kebun atau melakukan hobinya: memancing. Oh, kira-kira bulan keempat saya di Pelita, saya pernah pergi memancing berdua dengan pak Rusdi. Sekitar jam 4.30 sore kami berangkat melaut menggunakan ketinting (perahu kecil bermotor). Sampai di spot memancing, kami buang jangkar dan mulai menyiapkan umpan (ikan kecil) yang sebelumnya kami minta dari tetangga yang pulang menjaring ikan kecil. Sore itu ikan yang jadi target adalah ikan Gurara, begitu orang sini menyebutnya. Matahari hampir terbenam saat kami mulai melempar mata kail ke laut. Sambil memancing, pak Rusdi cerita kalau ikan Gurara ini baru akan makan umpan kita tepat saat matahari terbenam. Jadi ada sekitar 10 menit selang waktu dimana ikan Gurara akan memakan umpan kami. Ternyata itu sebabnya kami berangkat sore sekali dan kail yang dipasang di satu benang nilon sampai 3 buah. Karna Ikan Gurara ini sepertinya buka puasa saat matahari terbenam. Sore itu saya dapat 2 ekor ikan gurara, pak rusdi dapat 9. Karna tiba-tiba hujan besar, kami memutuskan untuk pulang. Sempat ada kejadian seru saat mesin ketinting tidak mau hidup sementara hujan besar sekali. Karna licin, beberapa kali perhu kami hampir terbalik karna pak rusdi dan saya bergantian memutar mesin yang harus ditarik sekuat tenaga supaya hidup. Setelah hidup pun, saya tidak tau arah pulang karna gelap dan hujan lebat mengganggu pandangan. Tapi untunglah saya pergi bersama orang yang besar di laut sekitar Pelita, somehow pak Rusdi tau harus mengarahkan ketinting kemana hingga kami selamat pulang sampai Pelita.
Sampai di rumah, jam 8 malam, setelah “memarkir” ketinting di dermaga, saya dan pak Rusdi pulang dalam keadaan basah kuyup dan membawa ikan. Ya, membawa ikan. “yang penting kitong bawa ikan lah supaya ibu tara marah pa kitorang..haha” begitu kata pak rusdi dalam perjalanan pulang malam itu. Benar saja, baru mengetok pintu belakang, bu Rusdi sudah terdengar ngomel dari dalam. Tapi begitu buka pintu dan pak Rusdi menyodorkan ikan 11 ekor yang masing-masing panjangnya sampai 30 cm, simsalabim, bu Rusdi langsung berhenti ngomel lalu langsung memboyong ikan ke dapur untuk di bakar. Pak Rusdi dan saya cekikikan. :D
Bu Rusdi ini memang terkenal galak di kalangan anak-anak desa. Yah, mungkin tipe ibu-ibu yang cerewet kalo sama anak-anak. Tapi sebenarnya dia baik. Seperti orang desa kebanyakan, bu rusdi sangat ringan tangan dan sering berbagi. Di rumah, saya makan teratur sekali. Sarapan biasanya kue basah khas maluku utara, lalu pulang sekolah ibu biasanya sudah masak, ikan tentunya, dan habis magrib makan malam sudah siap. Bu Rusdi jago masak, ini bikin saya inget sama mama. Hehe. Bu Rusdi punya banyak jenis masakan ikan mulai dari ikan goreng di macem-macemin, bakar, sampai ikan fufu (asap) dimacem-macemin. Belum aneka kue tradisional yang enak-enak semua. Yang paling saya suka adalah pisang ijo. Iya, memang tanpa “es” karena ga ada lemari es di Pelita. tapi jangan salah, pisang raja dari kebun sendiri yang super nampol sama saos bikinan Bu Rusdi ngalahin rasa semua pisang ijo yang pernah saya makan. Melihat Pak Rusdi dan istrinya ini seru. Kadang kalo pak rusdi pulang mancing kemaleman, bu rusdi bisa ngomel-ngomel. Tapi sesaat setelahnya sambil makan malem, mereka udah bisa asik aja ketawa-ketawa, kenceng banget, seperti orang Maluku kebanyakan. Mereka senang kalo saya mulai tanya-tanya apapun tentang Pelita dan Maluku Utara. Ya bahasa, tradisi, ataupun silsilah keluarga. Biasanya itu jadi topik obrolan kami pagi-pagi.
Di rumah juga tinggal 3 dari 4 anak Pak Rusdi dan seorang keponakannya. Anaknya yang paling tua sedang kuliah di Ternate. Yang kedua namanya Khairil Rusdi. Habis ditolak sekolah kepolisian karna umurnya masih kurang beberapa bulan. Jadi sambil menunggu tahun berikutnya, Khairil tinggal di Pelita. Keponakan Pak Rusdi namanya Juanda. Dia berumur dibawah Khairil dan masih kelas 2 SMA. Namanya juga remaja, khairil dan Janda ini lagi mulai semangat-semangatnya mengenal perempuan. Sepertinya dua-duanya sama-sama punya “teman” diluar Pelita. hampir setiap malam mereka pasti keluar ke dermaga desa untuk sms atau telfon. Biasanya mereka pulang lebih larut daripada saya. Dan kalau sudah terlalu larut biasanya mereka bakal mengetuk jendela kamar saya minta dibukain pintu. Bu rusdi selalu terbangun kalau pintu depan terdengar dibuka. “Siapa itu?” kalau yang jawab Juanda atau Khairil, Bu rusdi pasti ngomel. Jadi seringnya saya yang jawab, “Dika bu..” dan mereka pun selamat. :D
Suhaiba Rusdi, anak ketiganya pak Rusdi masih sekolah kelas 2 SMP. Di bawahnya lagi ada galang, nama aslinya Khairul Amin Rusdi dan masih berumur 4 tahun. Sebagai anak perempuan, Eba -panggilan Suhaiba- lah yang membantu bu Rusdi soal urusan dapur. Dia juga paling kompak dengan Galang, tapi juga paling usil dan sering bikin Galang nangis. Galang ini sidah pintar menghidupkan leptop saya, lalu biasanya minta diputarkan film perang. Anak seumur dia memang cepat mempelajari hal baru. Kamera saya sudah bisa saya pinjamkan ke Galang tanpa khawatir karna dia sudah tau cara mengoperasikannya dan paham kalau tangannya harus dikaitkan ke tali pengaman dan lensanya tidak boleh dia pegang. Saya sering teringat Iki, keponakan saya yang tinggal sama mama di rumah. Dia juga dari kecil sudah pinter macem-macem. Kalau sedang berjalan-jalan. Galang paling suka saya sompong –istilah orang Pelita untuk menggendong anak di sebelah pundak.
Saya senang karena saya merasa sudah dianggap seperti keluarga sendiri olah keluarga Pak Rusdi. Bukan lagi dianggap tamu dari kota yang lagi bertugas di Pelita. Interaksi saya dengan mereka menunjukkan hal itu. Keluarga ini hangat dan ceria. Yang sejauh ini bisa saya lihat, kehidupan di desa memang jauh dari tekanan. Ini berimbas ke perilaku manusia-manusianya. Orang-orang yang hidup tanpa rasa tertekan akan lebih rileks menjalankan kehidupannya. Orang-orang yang jauh dari tamak karena merasa apa yang mereka punya sudah lebih dari cukup. Orang-orang yang kemampuan untuk merasakan kebahagiaannya lebih tinggi daripada orang di kota kebanyakan. Saya yakin, itu pasti jadi salah satu penyebab kenapa keluarga Pak Rusdi hangat san ceria.
Dari keluarga ini saya belajar tentang kesederhanaan dan kemampuan bersyukur. Bisa makan ikan setiap hari, tidur dibawah atap walaupun dengan kasur tipis, rasanya cukup. Tak perlu lah mengutuki listrik PLN yang tak kunjung masuk atau sinyal HP yang tidak ada di desa. Tidur malam dengan gelap gulita rasanya juga lebih sehat. Siang hari tidak ada TV dengan sinetronnya juga rasanya lebih baik bagi anak-anak membuat mereka bermain diluar, berinteraksi dengan anak-anak lain. Banyak ternyata nilai dari kesederhanaan yang saya lupa atau bahkan mungkin tidak pernah sebegininya merasakan. Di Sini, kebahagian terlihat lebih luas.
Saya sekarang jadi lebih mengerti arti kalimat “kebahagiaan itu bukan dicari, tapi diciptakan.” Belajar banyak dari orang-orang di desa Pelita tentang arti kebahagiaan. Mungkin, saat semua orang mampu menciptakan kebahagiaannya sehingga apa yang dia lakukan dilandasi perasaan bahagia yang sebenarnya, saya pikir Indonesia pasti bisa menyelesaikan semua permasalahannya.
“and happiness only real when it shared...”