Monday, September 15, 2008

aknirnya..

gw bisa bernafas lega.......


pasti rencana tuhan adalah yang paling baik..


pasti..



hidup itu indah...

hiyyyyyaaaahh!!!!!

sudah sepuluh puranama..





dan aku masih disini..



sendiri..


hidup itu indah...

Sunday, September 14, 2008

TPA, pemulung, dan saya

pagi tadi gw bersama beberapa temen main2 ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Sari mukti. Kita kesana dalam rangka mengerjakan sebuah proyek tentang persampahan. nah tadi itu kita ngelakuin survey ke para pemulung disana..
sebenernya bukan itu inti yang pengen gw ceritain..jujur aja, gw baru sekali ke TPA Sari mukti ini. Dan gw cukup kaget melihat keadaan disana. baru dateng buka pntu mobil aja langsung tercium bau yang sangat menyengat. wuidiiih, puasa2 begini..
karena yang disurvey adalah para pemulung yang berada diatas timbunan sampah itu, alhasil kita harus ikutan turun kesana..dan mulailah proses survey di siang hari yang panas dan bau itu..
yang menarik, ratusan pemuling disana itu ada mulai dari kakek2 dan nenek2 sampe anak dibawah umur. bagi mereka, bau busuk merupakan sesuatu yang biasa. mereka bekerja seharian mengais2 tumpukan sampah mencari plastik2 dan apapun yang masih bernilai ekonomi. Dari seharian banting tulang itu, mereka rata2 berpenghasilan 20-30 ribu rupiah..dalam hati gw mikir, "gimana cara mereka hidup dengan penghasilan segitu setiap harinya?"
hari makin siang waktu itu, jumlah kuisioner yang harus gw isi pun tinggal beberapa..terus gw liat dua orang pemulung lagi beristirahat di tumpukan sampah lalu gw hampiri buat gw tanya2in buat ngisi kuisioner selanjutnya..gw mulailah percakapan itu dengan ramah. ga lama setelah gw memulai percakapan, gw terkejutkan oleh sesuatu! gw baru notice kalo mereka berdua itu sedang makan di tengah2 TPA itu..dan yang lebih ngagetin lagi, pas gw liat apa yang mereka makan, ternyata adalah sekantong plastik berisi roti basi yang udah berlendir yang mereka temuin di tumpukan sampah. gw sempet terdiam sebentar. perasaan gw bercampur2..lalu, seadanya gw selesaikan lah proses wawancara gw dengan mereka berdua. gw ga sanggup nanya ke mereka tentang apa yang gw liat. banyak hal yang gw pertimbangkan yang bikin gw milih buat ga nanyain itu. lalu saat gw jalan menjauh, ada seorang pemulung lain yang ternyata memperhatikan kebingungan gw dan bilang,"tuh mas,disini mah begituan juga dimakan..", lalu gw tanya,"apa mereka ga sakit pak?", "ya sakit perut lah" jawab bapak tadi..
terntnyata, rasa lapar mereka udah mengalahkan berbagai pertimbangan kesehatan. yang ada di kepala mereka adalah "LAPAR"! mereka lebih mempertimbangkan apa yang dirasakan perut mereka dari pada apa yang akan terjadi setelah mereka makan itu..

lihatlah pemulung yang gw wawancara ini begitu lahap dan cuek nya memakan roti itu..

gw gelisah, pengen rasanya gw maki2 orang2 yang bertanggungjawab atas nasib dan kehidupan orang2 seperti mereka ini..tapi gw sadar, kalo gw juga ternyata adalah sebagian dari orang2 yang bertanggungjawab itu..
kejadian tadi siang makin menyadarkan gw kalo memang amat sangat besar usaha yang harus dilakukan untuk membenahi bangsa ini..
sulit, tapi mungkin!!

terus, di akhir survey gw mendapat upah dari apa yang gw kerjain selama kurang lebih 2 jam di TPA itu sebesar 320 ribu rupiah! dan itu makin bikin gw sesek napas.. langsung terbandingkan di kepala gw antara apa yang gw dapet dan para pemulung itu dapet dengan kerjaan yang jauh lebih berat..

ya tuhan..,
beri kami nyali..
beri kami kekuatan..
amin

hidup (mereka) itu (seharusnya juga) indah...

Thursday, August 21, 2008

ya Tuhan..

aku memohon dihadapanmu..

berikanlah selalu kami kekuatan untuk terus bersyukur atas segala karunia yang telah Engkau limpahkan..

berikanlah selalu kami kekuatan untuk terus menyadari bahwa karunia yang Engkau limpahkan bukan untuk kami sia2kan, namun untuk kami manfaatkan sebaik2nya..

berikanlah selalu kami kekuatan untuk terus memahami bahwa kami yang Engkau karuniai adalah orang2 yang harus mampu untuk bermanfaat bagi orang lain..

dan berikanlah selalu kami keberanian untuk menghadapi dan menjalani semua konsekuensi dari apa yang telah Engkau karuniakan pada kami..

jangan biarkan kami menjadi pengecut..
jangan biarkan kami menjadi orang2 yang berada dalam kesia-siaan..
amin..


hidup itu indah...

Tuesday, August 19, 2008

merdeka itu :

Pertanggungjawaban!

Pertanggungjawaban atas perjuangan para pahlawan kita..

Beban yang menjadi tanggungan setiap orang yang dimerdekakan dengan darah para pahlawan..

Merdeka itu bahkan adalah pertanggungjawaban kita untuk mencari kebenaran atas apa yang seharusnya kita perbuat untuk mengisinya..

hidup itu indah...

Sunday, August 17, 2008

kampus aing!!

sudah seminggu ini..


salam ganesha terdengar dimana-mana..
salam ganesha terdengar dimana-mana..
salam ganesha terdengar dimana-mana..

bakti kami untukmu Tuhan, Bangsa, dan Almamater!!
MERDEKA!!

hidup itu indah..

Tuesday, August 12, 2008

Hal kecil? Atau hal mendasar?

Pendidikan nasional berdasarkan atas Pancasila dan bertujuan untuk meningkatkan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasan, keterampilan, mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian, dan mempertebal semangat kebangsaan agar dapat menumbuhkan manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa.

Menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2004 pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mengembangkan segala potensi yang dimiliki peserta didik melalui proses pembelajaran. Pendidikan bertujuan untuk mengembangkan potensi manusia agar memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, berkepribadian, memiliki kecerdasan, berakhlak mulia, serta memiliki keterampilan yang diperlukan sebagai anggota masyarakat dan warga negara.

Pendidikan Nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan , kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

Demikianlah beberapa kutipan tentang pendidikan nasional. Di benak saya muncul pertanyaan besar,”kenapa hal seperti ini baru saya dan banyak teman saya ketahui saat sudah menjadi mahasiswa? Tidakkah itu terlambat?”

Saya pikir, itu adalah hal yang sangat penting dipahami -tidak sekedar dihafal- oleh semua pelaku pendidikan, baik peserta didik maupun pendidikan karena hal tersebut merupakan tujuan yang mutlak harus dicapai. Dari tujuan tersebut sebenarnya bisa terjawab berbagai pertanyaan yang sering terlontar. Kita ambil contoh di kampus, sering kali muncul pertanyaan klise tentang tujuan berorganisasi. Bila kita sepakat bahwa berorganisasi merupakan juga salah satu proses pendidikan, maka konsepsi KM ITB yang kita anut sangatlah relevan. Disana tertera tujuan organisasi yang selaras dengan tujuan pendidikan nasional. Bila kita turunkan lagi, maka seharusnya kitapun mendapatkan jawaban akan pertanyaan peranan yang seharusnya dilakukan mahasiswa baik dalam lingkup kampus maupun masyarakat umum. Sebuah sifat dasar yang harus kita miliki -juga tertera di konsepsi- adalah insan akademis, yang selalu mengembangkan diri sehingga menjadi generasi yang tanggap dan mampu menghadapi tantangan masa depan dan juga selalu mengikuti watak ilmu untuk mencari dan membela kebenaran ilmiah sehingga akan mampu mengkritisi kondisi kehidupan masyarakatnya di masa kini dan selalu berupaya membentuk tatanan masyarakat masa depan yang benar dengan dasar kebenaran ilmiah. Jika kita memegang teguh dan menjalankan sifat itu dengan baik, maka seharusnya kita tidak perlu bingung terhadap bagaimana mahasiswa seharusnya. Dari hal itu, secara logis akan bisa kita turunkan sampai kita dapat menemukan relevansi dari dogma-dogma PFP (Peran Fungsi dan Posisi). Namun ternyata permasalahan tidak selesai saat kita berhasil menemukan relevansi tersebut. Buktinya, perkembangan di dunia kemahasiswaan kita bisa dikatakan belum signifikan. Kita juga perlu mempertanyakan sudah sejauh manakah kita memahami dan menghayati hal-hal tersebut sebagai dasar. Ya, sebagai dasar! Tentu akan berbeda penerapannya saat kita belum benar-benar paham akan definisi “dasar” itu. Maka sesuai dari judul tulisan ini. Memandang sesuatu hal sebagai “dasar” tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Perlu sebuah keikhlasan dan keberanian.

Jadi apapun peranan yang diambil mahasiswa, asalkan masih memegang “dasar” yang kita miliki dan kita anut pasti akan menghasilkan sesuatu yang positif. Dan tidak terbantahkan, mahasiswa harus mau melaksanakan peranannya. Karena sadar maupun tidak, sudah ada seonggok beban akan nasib bangsa dan kesejahteraan masyarakat Indonesia di pundak kita. Permasalahannya, apakah kita cukup bernyali untuk membuka mata, telinga dan hati kita untuk melihat kenyataan akan adanya seonggok beban itu? Atau kita lebih memilih berpura-pura tidak tahu?

Kalau pilihan kita adalah yang pertama, maka perlu kita sadari bahwa ternyata kita masih harus banyak belajar dan terus belajar. Namun jika pilihannya adalah yang kedua, maka silahkan pulang, dan tidur yang nyenyak.

Masih dan selalu,
Demi tuhan,
Untuk Bangsa dan Almamater
Merdeka!



Rahmat Danu Andika
153 04 103
(Tulisan yang dibuat dalam rangka memenuhi persyaratan sebagai Mentor umum INKM ITB 2008)

hidup itu indah...